Jakarta (ANTARA) - Di tengah hiruk-pikuk penanganan banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Sumatera, perhatian publik kerap tertuju pada seberapa cepat bantuan bergerak dan berapa banyak paket yang berhasil disalurkan.
Truk logistik datang dan pergi, relawan sibuk membagi kardus-kardus bantuan, dan antrean panjang terbentuk di dapur umum.
Namun di balik ritme itu, ada satu hal yang sering luput dari sorotan, yakni kualitas pangan yang dikonsumsi anak-anak yang hidup di tenda-tenda pengungsian.
Bencana tidak hanya memaksa orang bertahan dari hari ke hari, tetapi juga membentuk kondisi yang akan memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.
Bagi mereka yang sedang berada pada masa pertumbuhan, apa yang dimakan hari ini bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan bagian dari fondasi tubuh dan daya pikir mereka di masa depan.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan, yang turun langsung ke Aceh Tamiang, melihat persoalan ini dari jarak yang sangat dekat.
Di lokasi pengungsian, ia mendapati bantuan pangan yang datang sebagian besar berupa mie instan dan makanan praktis lain.
“Kami melihat langsung di Aceh Tamiang, bantuan yang banyak datang itu mie instan dan makanan praktis lain. Kalau itu terus-menerus dikonsumsi, tentu kurang sehat untuk anak-anak,” ujarnya.
Menurut Budi, pola bantuan seperti ini sering terjadi karena faktor kepraktisan. Makanan dengan daya simpan panjang lebih mudah dikumpulkan, diangkut, dan dibagikan.
Dalam situasi darurat, pilihan tersebut terasa paling masuk akal. Namun di sisi lain, pendekatan seragam ini membuat perbedaan kebutuhan gizi antar kelompok usia menjadi tidak terlihat.
Balita, anak-anak, orang dewasa, dan lansia menerima jenis pangan yang sama, padahal kebutuhan tubuh mereka sangat berbeda.
Bagi balita, masa ini adalah periode penting yang menentukan perkembangan fisik dan kemampuan belajar mereka. Asupan yang kurang seimbang dapat berdampak pada daya tahan tubuh dan kualitas tumbuh kembang dalam jangka panjang.
Pemantauan yang beredar di media sosial dan laporan relawan di lapangan juga menunjukkan hal serupa. Bantuan pangan didominasi mie instan dan produk kental manis. Produk ini memang mudah dibagikan dan tidak membutuhkan pengolahan rumit, tetapi kandungan gizinya kerap disalahpahami.
Baca juga: Menko AHY lepas 19 truk bantuan makanan bagi warga Aceh dan Sumatera
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































