Mengumpulkan DNA keramik Jingdezhen

7 hours ago 6

Beijing (ANTARA) - Total ada delapan orang perempuan dan laki-laki mengenakan jubah putih yang biasa digunakan dokter atau pekerja laboratorium di ruangan itu.Mata mereka fokus pada benda di hadapannya, tangan-tangan pun terampil mengambil satu per satu pecahan keramik lalu menyatukannya ke bentuk tertentu.

Bukan hanya tangan manusia yang terampil di ruangan itu, ada juga tangan robot yang bekerja tak henti memindai ratusan spesimen bagian keramik berbagai bentuk.

Situasi itu terjadi di Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, suatu lembaga penelitian berlokasi di pusat Kota Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, China bagian Tenggara.

Lembaga tersebut bertanggung jawab atas perlindungan dan pameran warisan budaya di Taman Situs Arkeologi Nasional Tungku Kekaisaran Jingdezhen serta pekerjaan arkeologi dan penelitian terkait di seluruh Jingdezhen.

Jingdezhen sendiri sudah dikenal sebagai kota industri porselen kekaisaran Tiongkok sejak abad ke-10 hingga abad ke-19.

Sebanyak 80 ribu unit keramik per tahun yang terdiri dari berbagai jenis piring besar, piring kecil, mangkuk, cawan, tempayan, guci dikemas dan dikirim ke ibu kota kerajaan dalam berbagai era dinasti.

Keramik-keramik itu berfungsi mulai dari hiasan di berbagai ruangan istana, keperluan ritual kerajaan hingga hadiah perkenalan bagi mitra kerajaan lain, sehingga tidak heran keramik dari Jingdezhen dapat tersebar hingga Asia Timur, Asia Tenggara, kawasan Samudra Hindia, Semenanjung Arab, Afrika hingga dan Eropa.

Pengecekan kualitas barang yang dapat dikirim ke kaisar sangat ketat, sehingga barang yang tidak lolos seleksi pun dibuang dan dipendam di berbagai lokasi dekat tungku pembakaran saat itu.

Direktur Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, Weng Yanjun memperlihatkan keramik yang menjadi "harta karun" di museumnya, yaitu sepasang bebek berwarna dominan kuning dengan garis hitam di beberapa bagian badannya.

"Keramik ini dibuat pada masa Dinasti Ming sekitar 550 tahun lalu. Kami menyebutnya tempat pembakaran dupa berbentuk bebek dengan hiasan sancai polos. Disebut polos karena tidak menggunakan warna merah," ucap Weng.

Keramik sepasang bebek berwarna kuning koleksi Museum Situs Tungku Kekaisaran Jingdezhen. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Sancai sendiri artinya adalah "tiga warna", yaitu jenis keramik China kuno yang terdiri dari tiga warna dominan kuning, hijau, dan putih, meski dalam praktiknya sering juga ada penggunaan warna cokelat, biru atau hitam.

"Warna yang terlihat seperti hitam itu sebenarnya biru. Selain itu, terdapat warna kuning dan ungu. Jadi, benda ini menggunakan tiga warna. Perhatikan bulu-bulu bebek, ukiran pada bulunya dibuat dengan sangat terperinci, begitu pula mata, lidah dan paruh berbentuk seperti bunga, lidahnya, dan paruhnya. Baik pewarnaan maupun ukirannya dikerjakan secara sangat rumit," ujar Weng.

Weng menegaskan benda-benda yang dipamerkan itu tidak pernah berhasil dikirim ke istana, baik ke Beijing maupun Nanjing, sebagai ibu kota kekaisaran karena tidak memenuhi standar kaisar.

Masalahnya, bagaimana masyarakat umum tahu mengenai sejarah, fungsi hingga jenis motif keramik yang dibuat ratusan tahun lalu bila bukan pakar keramik?

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |