Menelusuri kembali Jalur Pantura, jejak lama di tengah arus mudik

3 hours ago 2
Dulu sebelum ada tol, ramai sekali. Sekarang pembeli jauh berkurang, paling hanya yang sengaja keluar tol atau warga sekitar

Cirebon (ANTARA) -

Di tengah arus mudik Lebaran yang kini didominasi jalan tol, dua wajah perjalanan darat di Pulau Jawa masih memperlihatkan kontras yang jelas.

Jalur selatan menghadirkan perjalanan yang relatif lengang dengan panorama pesisir yang menenangkan, sementara jalur Pantura tetap ramai dan menjadi nadi utama pergerakan kendaraan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

Tim ANTARA menelusuri kedua jalur tersebut, dari Cilacap menuju Yogyakarta hingga berlanjut ke Cirebon, guna melihat secara langsung kondisi lalu lintas serta dinamika yang berlangsung di sepanjang rute perjalanan.

Singgah di Semarang, jejak kopi dan kuliner lokal

Setelah melalui Yogyakarta, perjalanan dilanjutkan dari Semarang menuju Cirebon pada Rabu pagi sekitar pukul 10.30 WIB melalui jalur Pantura. Rute ini menjadi kontras dengan jalur selatan yang sebelumnya dilalui, dengan arus kendaraan yang mulai meningkat di sejumlah titik.

Sebelum melanjutkan perjalanan, tim terlebih dahulu singgah di Dharma Boutique Roastery yang berlokasi di Jalan Wotgandul Barat No. 14, kawasan Pecinan, Semarang. Kedai ini menempati bangunan lama bergaya kolonial dan dikenal sebagai salah satu rumah kopi tertua di kota tersebut.

Hidayat Basuki menunjukkan mesin sangrai kopinya di Dharma Boutiqe Roastery, Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (19/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

Dharma Boutique Roastery merupakan kelanjutan dari pabrik kopi Margo Redjo yang telah berdiri sejak 1915. Hingga kini, usaha tersebut masih mempertahankan proses penyangraian kopi secara tradisional, dengan mesin lama yang tetap digunakan untuk menjaga cita rasa.

Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan kuliner dengan mencicipi tahu gimbal di warung Tahu Gimbal Pak Edy yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno, Semarang. Hidangan ini terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, tauge, dan bakwan udang yang disajikan dengan bumbu kacang bercampur petis.

Warung tersebut tetap melayani pembeli, meski tidak seramai hari biasa. Sejumlah pengunjung terlihat datang untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Baca juga: Kopi tertua di Semarang jaga tradisi kopi lokal dan warisan sejak 1915

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |