Mendukbangga: "Ngobrol" bersama keluarga kunci tangani masalah mental

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengemukakan ngobrol atau berdiskusi bersama keluarga dan berhenti sejenak dari gawai menjadi salah satu kunci untuk menangani masalah mental.

"Orang tua sebaiknya lebih sering mengajak anak berbicara, berdiskusi, dan membangun komunikasi yang baik karena itu menjadi kunci menjaga kesehatan mental anak. Selain itu, saya kembali mengingatkan agar teknologi dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya manusia menjadi melayani teknologi," katanya.

Hal itu disampaikan dalam diskusi bersama Wali Kota Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Jumat.

Ia menegaskan, penanganan kesehatan mental memerlukan kolaborasi seluruh pihak, meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, orang tua, hingga anak-anak.

"Pemerintah mengakui bahwa masalah kesehatan mental merupakan persoalan yang sangat serius. Oleh karena itu, kami berharap kampanye mengenai pentingnya mempersiapkan generasi masa depan terus diperkuat," katanya.

Wihaji mengemukakan, Yogyakarta merupakan daerah yang sangat plural dan menjadi miniatur Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai tempat pembelajaran yang baik, termasuk dalam penanganan isu kesehatan mental.

"Kami terus menekankan tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, dan Yogyakarta diharapkan menjadi titik awal penguatan kampanye tentang kesehatan mental," paparnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan siap menindaklanjuti arahan Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, dengan memperkuat sistem skrining gangguan kesehatan mental di sekolah, dilanjutkan dengan rujukan berjenjang ke puskesmas dan rumah sakit.

"Kota Yogyakarta telah memiliki Adolescent Health Center di rumah sakit sebagai bagian dari layanan kesehatan remaja. Tingginya kasus gangguan mental dan pengaruh lingkungan (toxic people) berkaitan dengan tingginya keberagaman masyarakat di Yogyakarta," ucap Hasto.

Ia berharap, DI Yogyakarta dapat menjadi contoh nasional dalam manajemen penanganan kesehatan mental, bukan hanya dari sisi jumlah kasus, melainkan dari sistem penanganannya yang efektif.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |