Jakarta (ANTARA) - Indonesia Emas kerap digambarkan sebagai negeri dengan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing. Visi itu menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, bukan sekadar angka statistik.
Karena itulah, setiap kebijakan yang menyentuh kehidupan paling dasar warga, termasuk soal pangan dan gizi, layak dibaca dengan cermat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dalam semangat tersebut. Namun di balik niat mulianya, berkelebat pertanyaan: sejauh mana negara perlu masuk ke dapur warga agar cita-cita Indonesia Emas tidak tumbuh dari ketergantungan, melainkan kemandirian.
Program MBG hadir dengan niat yang —di permukaan— sulit ditolak. Negara ingin memastikan generasi tumbuh sehat, cukup gizi, dan tidak tertinggal sejak di meja makan. Dalam lanskap kehidupan sehari-hari yang makin mahal dan serba cepat, kepedulian semacam ini terasa menenangkan. Ada rasa ditemani, ada kesan negara tidak tinggal diam.
Tak ayal MBG memanen banyak simpati. Karena program ini tidak datang sebagai kebijakan dingin berbasis angka, melainkan dibungkus narasi kasih sayang. Negara seolah berkata, biarlah urusan makan anak-anak tidak lagi menjadi kecemasan keluarga. Sebuah pesan yang terdengar hangat, bahkan manusiawi.
Namun seperti banyak niat baik lainnya, MBG mengundang pertanyaan yang lebih dalam ketika ia diterjemahkan menjadi praktik. Sebab niat —betapapun mulianya— selalu perlu diuji oleh batas peran. Negara yang peduli bukan berarti harus hadir di setiap detail kehidupan warganya. Ada garis tipis antara kehadiran dan keterlibatan berlebihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, dapur bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang belajar pertama tentang tanggung jawab, kemandirian, dan pilihan. Di sanalah keluarga meramu kemampuan bertahan hidupnya, sesuai kondisi dan daya yang dimiliki.
Ketika negara masuk terlalu jauh ke ruang ini, niat baik bisa berubah menjadi pengambilalihan yang tidak disadari.
MBG, dalam konteks ini, tampak seperti negara yang ingin memastikan hasil akhir tanpa lebih dulu membereskan jalan menuju ke sana.
Alih-alih memperkuat fondasi agar keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizinya sendiri, negara memilih hadir langsung di piring. Sebuah pendekatan yang terasa praktis, tetapi menyisakan tanya tentang keberlanjutan dan pembagian peran.
Gaya hidup modern memang menuntut banyak penyesuaian. Harga pangan fluktuatif, waktu kian sempit, dan tekanan ekonomi tidak selalu ramah.
Negara tentu perlu hadir sebagai penopang. Tetapi kehadiran itu idealnya memberi rasa aman, bukan menggantikan peran yang seharusnya tumbuh dari dalam keluarga.
Di sinilah MBG mulai terasa bukan sekadar program gizi, melainkan cermin tentang bagaimana negara memaknai kepedulian.
Apakah kepedulian berarti turun sampai ke urusan paling privat, atau justru memastikan agar warga punya daya untuk mengurusnya sendiri. Sebuah tanya tidak untuk dijawab tergesa-gesa, tetapi perlu direnungkan bersama, sebelum niat baik melangkah terlampau jauh.
Peran melebar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































