Makna di balik kerja sama maritim RI–Inggris

2 weeks ago 9
Dalam konteks pengembangan ekonomi biru Indonesia, Inggris bisa masuk dengan teknologi dan industri maritimnya. Adapun Indonesia masuk dengan sumber daya dan wilayahnya. Pertemuan dua kepentingan ini bisa produktif, bisa juga problematik.

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer di London baru-baru ini, meyakini kerja sama bidang maritim antara Indonesia-Inggris menjadi salah satu bagian vital dalam perkembangan perekonomian maritim Indonesia.

Dalam pertemuan dengan PM Inggris itu, Prabowo mengungkap pula bahwa pihaknya telah menemui petinggi Babcock, galangan kapal asal Inggris, yang nantinya akan menjadi mitra Indonesia dalam kerja sama pengadaan 1.000 kapal tangkap ikan untuk nelayan-nelayan Indonesia.

Apa yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pertemuan itu cukup menarik, karena jarang laut diletakkan di pusat ekonomi nasional. Pertemuan itu sendiri setidaknya mengingatkan kembali kepada kita ihwal pentingnya pengembangan ekonomi biru.

Bukan cuma ikan

Banyak orang mengira ekonomi biru itu hanya soal menangkap ikan lebih banyak. Padahal ceritanya jauh lebih luas. Ekonomi biru juga ihwal apa yang terjadi setelah ikan diangkat dari laut.

Dengan demikian, ekonomi biru bukan sebatas menangkap ikan, lalu selesai. Cara ikan itu dibersihkan, disimpan, diolah, dan dijual menjadi bagian pula dari aktivitas ekonomi biru.

Ikan yang dijual mentah di pelabuhan harganya rendah, tetapi ikan yang diolah -- difilet, diasap, dibekukan, atau dikemas rapi -- nilainya bisa berlipat. Di sisi lain, penyimpanan yang baik membuat ikan tidak cepat rusak, sehingga nelayan tidak terpaksa menjualnya murah.

Pada saat bersamaan, pemasaran yang rapi membuka akses ke pasar yang lebih luas, dari hotel sampai ekspor. Di situlah nilai tambah tercipta, bukan dari ikannya semata, tetapi juga dari proses yang menyertainya.

Dalam konteks pengembangan ekonomi biru Indonesia, Inggris bisa masuk dengan teknologi dan industri maritimnya. Adapun Indonesia masuk dengan sumber daya dan wilayahnya. Pertemuan dua kepentingan ini bisa produktif, bisa juga problematik. Semua tergantung desain kebijakannya.

Ekonomi biru sendiri menuntut tata kelola yang rapi. Ia bukan hanya menyangkut soal produksi, tapi juga menyangkut distribusi dan pengawasan. Tanpa itu, laut hanya akan jadi ladang baru eksploitasi.

Baca juga: Prabowo: Kerja sama maritim dengan Inggris vital untuk ekonomi RI

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |