Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berkoordinasi dengan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan dalam menangani seorang balita perempuan yang menjadi korban peluru nyasar dalam peristiwa tawuran di Belawan, Medan, Sumatra Utara.
"Penjangkauan awal telah dilaksanakan dan selanjutnya akan memberikan fasilitasi layanan kesehatan lanjutan, dengan memastikan korban mendapatkan perawatan medis yang optimal atas luka di area mata," kata Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus KemenPPPA Ciput Eka Purwianti saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Layanan yang diberikan termasuk di antaranya rujukan dan pemantauan kondisi kesehatan korban melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah.
"Berdasarkan hasil koordinasi antara Kementerian PPPA dan UPTD Kota Medan, diketahui Walikota Medan telah mengunjungi korban di rumah sakit pada Selasa, 6 Januari 2025," kata Ciput Eka Purwianti.
Saat ini, pihak rumah sakit tengah melakukan pemeriksaan untuk memastikan langkah penanganan lanjutan bagi korban.
Sementara UPTD PPA Kota Medan masih melakukan klarifikasi lebih lanjut terkait kasus ini.
UPTD PPA juga akan memberikan pendampingan hukum dan pemantauan proses penegakan hukum dengan berkoordinasi dengan kepolisian guna memastikan hak anak korban terpenuhi, proses hukum berjalan ramah anak, dan tidak terjadi reviktimisasi.
"Harapannya, pihak UPTD PPA dapat memberikan pendampingan psikologis, trauma healing, serta pendampingan hukum bagi korban dan keluarganya," kata Ciput Eka Purwianti.
Sebelumnya, peristiwa tawuran antarkampung di Kecamatan Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara, mengakibatkan seorang anak perempuan berusia 4 tahun menjadi korban peluru nyasar.
Peluru diduga bersarang di kelopak mata kanan bocah malang tersebut.
Baca juga: KemenPPPA kecam tawuran sebabkan anak jadi korban peluru nyasar
Baca juga: Wali Kota Medan: Balita korban peluru nyasar dalam penanganan dokter
Baca juga: Kekerasan anak oleh ayah alarm rumah masih jadi risiko kekerasan anak
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































