Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan perkembangan ekonomi berkelanjutan termasuk di sektor kehutanan dapat berperan tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi tapi juga mencapai target emisi baru Indonesia.
Ditemui usai rapat koordinasi jelang Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Jakarta, Rabu, Menteri LH Hanif menjelaskan bahwa sektor kehutanan dan penggunaan lahan (Forestry and other land uses/FOLU) tidak hanya berkontribusi menyumbang pengurangan emisi yang besar tapi juga menjadi faktor penting mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
"Sektor FOLU yang kemudian dikembangkan dengan cukup masif, seluas target (reforestasi) Bapak Presiden yang meminta kepada kita semua untuk mendekati di angka 12,7 juta hektare. Ini artinya ada uang yang cukup banyak akan bergelimang di sana, artinya ada ekonomi yang mestinya tumbuh dari sektor kehutanan," tutur Hanif.
"Dengan memacu (reforestasi) 12,7 juta hektare, artinya memacu ekonomi yang cukup besar. Ini serius ya, jadi ekonomi sustainable justru muncul dari situ," tambahnya.
Baca juga: Menteri LH: RI punya target kurangi emisi lebih ambisius di Second NDC
Di sisi lain, sektor FOLU masih menjadi tulang punggung untuk mencapai target emisi. Dengan berdasarkan dokumen iklim Second Nationally Determined Contribution (SNDC), sektor kehutanan diharapkan mencapai kondisi net sink atau tingkat penyerapan lebih besar dibandingkan emisi yang dihasilkan pada 2030 yang dikenal dengan istilah FOLU Net Sink 2030.
Untuk mengimbangi sektor energi, yang diperkirakan baru mencapai puncak emisi pada 2038, maka sektor kehutanan diproyeksikan dapat mencapai -206 juta ton CO2 ekuivalen (CO2e) pada 2035.
"Dengan demikian arah pembangunan ekonomi kita tidak melulu di manufacturing tapi ada di sektor forestry. Ini yang kemudian harus menjadi mindset kita. Artinya dalam dokumen Second NDC dimandatkan sektor FOLU harus diperbesar, artinya semua komponen ekonomi yang mungkin di-support ke sana akan terdorong. Sehingga ekonominya pasti besar," tutur Hanif.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia secara resmi telah menyerahkan dokumen iklim SNDC kepada Sekretariat UNFCCC pada pekan lalu. Di dalam dokumen itu target Indonesia tertuang dalam dua skenario yaitu Low Carbon Compatible with Paris Agreement (LCCP) Low atau LCCP-L dan High atau LCCP-H.
Baca juga: KLH: Perlu reforestasi lebih besar untuk capai target FOLU di SNDC
Di dalam skenario LCCP-L diproyeksikan emisi mencapai 1,3 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) dan LCCP-H 1,4 juta ton CO2e pada 2031. Pada 2035, diproyeksikan tingkat emisi mencapai 1,257 juta ton pada LCCP-L dan 1,488 juta ton dalam LCCP-H.
Jumlah itu turun dari perkiraan emisi di dalam Enhanced NDC yaitu 1,953 juta ton CO2e dengan upaya sendiri atau Countermeasure (CM) 1 dan 1,632 juta ton CO2e dengan dukungan internasional atau CM2 pada 2030.
Baca juga: RI integrasikan FOLU Net Sink 2030 dalam program prioritas nasional
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































