Jakarta (ANTARA) - Selasa (8/9), datang pesan masuk dari ibu berupa sebuah tautan dari media sosial tentang kabar lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang dalam misi peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pesannya singkat saja, “Hati-hati, Mbak, tidak ada berita seharga nyawa,” yang kemudian berakhir tanpa balasan karena di hari itu ada tugas wawancara, memotret, mentranskrip, dan menulis.
Baru kemudian di malam harinya, saat semua berita telah tayang dan lampu kamar sudah gelap, pesan singkat yang tak terbalas sejak pagi itu kembali ditatap dengan cermat sambil menggulir setiap unggahan di Instagram. Ada sejumlah daftar nama yang sudah bertebaran di ruang maya, dan sampailah pada nama rekan sekantor yang ternyata ikut dalam rombongan tersebut: Muhammad Bagus Khoirunnas.
Hari berganti hari dan pekerjaan meliput seperti sebelum-sebelumnya berjalan seperti biasa hingga pada Rabu (9/9), koordinator liputan memberi tugas untuk ikut meliput pencarian kedelapan orang yang hilang tersebut. Tujuannya, Posko Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Pada hari pula, setelah dua hari tidak menghiraukan pesan ibu, nomor telepon ibu menjadi tujuan untuk meminta doa restu agar senantiasa diberi keselamatan dalam setiap langkah turut terlibat dalam misi pencarian di tengah status Gunung Anak Krakatau yang masih siaga 3.
Perjalanan menuju Pandeglang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB sehari setelah turunnya penugasan itu dan sampai di Carita sekitar pukul 13.00 WIB. Sesampai di tujuan, tenda-tenda milik Basarnas, TNI/Polri, hingga pos ante mortem sudah didirikan dan teman-teman jurnalis sudah bersiaga sejak pagi untuk turut melaporkan detik demi detik hasil pencarian, sekecil apa pun.
Satu siang pun terlewati dan berganti malam hingga foto terakhir yang menampilkan kelima jurnalis tersebut saat berangkat menggunakan Kapal Arupadhatu 1 terpampang di depan mata. Pelan-pelan satu demi satu wajah mereka diperhatikan dengan teliti hingga sampailah pada wajah Bagus, rekan sekantor yang hilang itu.
Masih teringat dengan jelas, bagaimana kami pernah ditugaskan bersama meliput agenda kementerian di Kabupaten Pandeglang, Banten, bulan Februari.
Waktu itu, Bagus terlihat sebagai sosok yang cekatan dan sigap. Awalnya, tidak ada tegur sapa karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan sendiri. Sampai akhirnya Bagus melihat ada kartu identitas bertuliskan ANTARA di dada, dan Bagus pun bertanya, “Dari Antara Jakarta ya, Mbak? Saya Antara Foto Banten,” yang kemudian berjawab singkat, “Wah iya, Mas, salam kenal, senang ada barengan.”
Kami juga sempat mengabadikan foto bertiga bersama punggawa Antara TV Banten, Susmiatun. Swafoto bertiga itu yang kemudian dikirim Mbak Ebok, panggilan akrab Susmiatun, saat kami bertemu kembali di Carita. Tetapi sayangnya kali ini dalam momen kesedihan dan penantian yang sama: menunggu kabar Bagus pulang.
Mbak Ebok bercerita bahwa Bagus telah menikah dengan Desi Purnama Sari, yang juga seorang Pewarta Antara Banten sejak 22 Desember 2024. Desi, di siang menuju sore itu sedang duduk di pesisir Pantai Carita sambil terus merapal doa.
Air mata
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































