Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis kulit lulusan Universitas Hassanudin dr. Fransiskus Xaverius Clinton, Sp.DVE membagikan kiat pada masyarakat supaya terhindar dari virus atau bakteri yang banyak menempel pada baju thrifting (baju bekas yang dijual kembali).
"Memakai baju thrifting langsung itu bahaya sekali, apalagi kita langsung pakai dan kita enggak memprosesnya terlebih dulu," kata Clinton dalam temu media di Jakarta, Kamis.
Menanggapi fenomena generasi muda yang gemar membeli barang thrifting, Clinton mengatakan bahwa pakaian bekas yang belum dicuci dan ditumpuk begitu saja dapat mengandung virus Molluscum contagiosum, yang tidak diketahui sejak kapan telah bersarang di dalam serat atau bagian baju.
Virus itu pun diketahui dapat bertahan lebih dari 48 jam. Orang yang terjangkit virus itu akan mengalami bintik-bintik pada kulit, sehingga penderitanya perlu mendapatkan penanganan medis dari tenaga medis.
Oleh karenanya, Clinton menyarankan agar baju yang dibeli segera direndam kurang lebih selama 30 menit terlebih dahulu pada suhu di atas 40 derajat Celcius untuk memastikan virus tersebut mati.
"Bagus lagi jika memakai air mendidih," ujarnya.
Baca juga: Tanda bahaya infeksi kulit yang perlu diwaspadai usai "thrifting"
Setelahnya, baju dicuci menggunakan detergen agar virus dan bakteri lain yang hinggap dapat dibasmi secara maksimal.
Mencuci baju secepat mungkin akan melindungi kulit, terutama bagi orang-orang yang memiliki tipe kulit sensitif, memiliki riwayat penyakit kulit seperti eksim ataupun orang dengan luka terbuka.
"Untuk yang dihindari sebetulnya, semuanya kita harus menghindari itu. Baik kulit lapisan pelindung, kulit kita bagus atau enggak. Tapi untuk kulit barier yang tidak bagus memang itu lebih rentan untuk terjadinya suatu infeksi," ujar dia.
Baca juga: Dokter ungkap beragam risiko kesehatan dari "thrifting" baju bekas
Baca juga: DKI dukung larangan “thrifting”
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































