Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan implementasi biodiesel B50 memberikan manfaat ekonomi nyata bagi negara sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia dalam pernyataan di Jakarta, Jumat menjelaskan, transformasi ini menandai era di mana kedaulatan energi nasional digerakkan langsung oleh komoditas domestik.
Melalui formula baru tersebut, katanya, setiap liter solar yang dikonsumsi masyarakat, setengah porsinya kini berasal dari hasil bumi yang ditanam dan diproduksi langsung oleh petani lokal Indonesia.
Menurut dia, keterlibatan penuh komoditas dalam negeri ini diyakini akan memperkuat fundamental ketahanan energi nasional dalam menghadapi gejolak pasar global.
Baca juga: Pemerintah pastikan B50 aman digunakan dan tidak merusak mesin
"Program B50 ini beri manfaat ekonomi nyata bagi negara. Implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun sepanjang tahun 2026. Penghematan itu modal penting untuk mendukung pembangunan dan memperkuat perekonomian nasional. Selain itu program ini ditargetkan mampu menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat," ungkapnya.
Selain memberikan dampak terhadap perekonomian, dirinya menyampaikan implementasi B50 juga berkontribusi terhadap upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Penggunaan biodiesel B50 diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 44,46 juta ton CO2 sepanjang 2026.
Untuk memastikan program berjalan optimal, pihaknya terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap aspek teknis maupun operasional di lapangan.
Pemerintah juga memastikan koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari produsen kendaraan hingga pelaku industri tetap berjalan selama implementasi.
Baca juga: Prabowo: Indonesia hentikan impor solar mulai Juli 2026
"Poin pentingnya adalah pemerintah akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap implementasi B50. Kami juga terus berkoordinasi dengan produsen kendaraan, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaannya berjalan dengan baik," tambah Dwi Anggia.
Pihaknya menegaskan bahwa pergeseran menuju B50 bukan sekadar tentang diversifikasi atau mengganti jenis bahan bakar semata.
Peta jalan ini adalah instrumen negara yang dilakukan secara bertahap dan berbasis pengujian dengan prioritas utama untuk mengalirkan manfaat ekonomi serta kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































