Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) membahas peran arsitektur dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia.
“Arsitektur juga berpotensi menjadi the new engine of growth bagi ekonomi kreatif," kata Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Dalam audiensi IAI di Jakarta, Rabu (7/1), Irene mengatakan bahwa arsitektur memiliki peran strategis dalam ekosistem ekonomi kreatif, khususnya dalam pemanfaatan ruang publik sebagai medium kolaborasi lintas subsektor, mulai dari desain komunikasi visual, interior, produk dan furnitur, seni rupa, hingga pengembangan IP (Intellectual Property).
Keterhubungan ini menjadi kunci untuk menghadirkan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bernilai dan berdampak bagi masyarakat.
“Kita ingin meng-elevate event ini ke level berikutnya. Bukan hanya diskusi, tapi membuka peluang kolaborasi nyata. Arsitektur harus hadir sebagai bagian dari solusi, sekaligus penggerak ekosistem kreatif,” ujar Irene.
Baca juga: Kemenekraf tegaskan kontribusi ekraf dari daerah di retret kabinet
Hadirnya ARCH:ID berpotensi menjadi ruang strategis untuk mempertemukan arsitek, desainer, pemerintah, dan pelaku industri kreatif melalui pendekatan aplikatif, seperti sesi matchmaking, showcase ruang publik, serta simulasi gagasan desain yang relevan dengan kebutuhan kota.
ARCH:ID 2026 yang bertemakan "Skema Sintesa" dijadwalkan berlangsung pada 23–26 April 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, dan menjadi edisi keenam sejak pertama kali diselenggarakan pada 2020.
Tema itu diambil untuk menekankan pentingnya kolaborasi dan kesinambungan dalam praktik arsitektur, terutama dalam konteks perkotaan dan ekologi.
Wakil Ketua IAI sekaligus Direktur Program ARCH:ID Firman S. Herwanto mengatakan bahwa industri arsitektur tidak lagi bersifat individual karena perannya makin berkembang menjadi fasilitator dalam ekosistem ekraf.
“Skema Sintesa lahir dari kesadaran bahwa tantangan arsitektur saling terhubung dan hanya bisa dijawab melalui kerja kolaboratif,” ujar Firman.
Firman juga menyoroti semakin kuatnya peran arsitek perempuan dalam lanskap arsitektur Indonesia, yang kini semakin terlihat dan mendapatkan ruang dalam perumusan gagasan besar ARCH:ID 2026.
Maka dari itu IAI berharap mendapatkan dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif untuk menjadikan ARCH:ID secara berkelanjutan, termasuk penguatan jejaring internasional dan diskursus kebijakan perkotaan.
Baca juga: Kemenekraf apresiasi inovasi Web3 untuk perpustakaan digital Libere
Baca juga: Kemenekraf resmikan Scenic Art Station sebagai seni di ruang publik
Baca juga: Kemenekraf perluas peluang kreator muda melalui Whiteboard Journal
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































