Jakarta (ANTARA) - Salah satu dampak yang kerap muncul saat bencana alam terjadi adalah terputusnya akses antarwilayah. Kerusakan jalan maupun jembatan membuat mobilitas masyarakat terganggu sehingga aktivitas sehari-hari tidak dapat berjalan normal.
Tidak hanya itu, terhambatnya akses tersebut juga berpotensi tinggi memperlambat distribusi bantuan, membatasi masyarakat dalam menjangkau layanan penting, serta mengganggu roda perekonomian.
Dalam situasi darurat seperti ini, keberadaan jalur penghubung yang cepat, aman dan fungsional menjadi sangat penting agar proses pemulihan wilayah dapat segera dilakukan dan kehidupan masyarakat perlahan kembali berjalan.
Pada saat inilah Jembatan Bailey hadir sebagai solusi.
Jembatan Bailey
Jembatan Bailey merupakan jenis jembatan sementara yang umumnya terbuat dari rangka baja ringan berkualitas tinggi. Jembatan ini dirancang agar mudah dipasang dan dipindahkan (moveable) sehingga kerap digunakan sebagai jembatan darurat.
Jembatan Bailey dikembangkan oleh Sir Donald Bailey, seorang pegawai negeri sipil di Kantor Perang Inggris, pada tahun 1940. Awalnya, jembatan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan militer Inggris saat Perang Dunia II.
Pertama kali diproduksi secara massal pada Juli 1941, Jembatan Bailey terdiri atas tiga bagian utama dengan kekuatan yang ditopang oleh panel-panel di samping. Panel jembatan ini pada umumnya memiliki panjang 3 meter, tinggi 1,5 meter, dan persilangan masing-masing berbobot 260 kilogram.
Lantai jembatan Bailey tersusun atas sejumlah transom selebar 19 kaki ( 5,8 meter) yang dipasang melintang di sepanjang bentang jembatan. Transom ini diletakkan pada chord panel bagian bawah dan disatukan menggunakan klem.
Pada bagian bawahnya, dipasang stringer sepanjang 10 kaki ( 3,0 meter) yang saling terhubung sehingga membentuk struktur persegi yang kokoh. Stringer tersebut ditempatkan di atas rangka struktural yang telah terpasang, kemudian papan kayu dipasang di atasnya sebagai landasan lalu lintas.
Keunggulan Jembatan Bailey
Keunggulan utama dari Jembatan Bailey terletak pada kesederhanaan fabrikasi serta perakitan komponen modular. Selain itu, setiap bagiannya dapat dirakit dan dioperasikan secara efisien, bahkan dengan penggunaan alat berat yang minim.
Proses perakitannya yang relatif cepat dan hanya membutuhkan sedikit tenaga manual, serta peralatan sederhana (hands tool), menjadikan Jembatan Bailey sebagai solusi tepat untuk memenuhi akses jalan di tengah kondisi darurat baik saat perang maupun pascabencana alam.
Jembatan Bailey juga sering digunakan dalam proyek konstruksi sipil sementara, misalnya sebagai jembatan yang sedang direnovasi atau diperbaiki.
Meskipun sifatnya sementara, Jembatan Bailey memiliki daya tahan dan kekuatan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Diketahui, Jembatan Bailey mampu menopang kendaraan berat seperti tank baja dan alat perang alutsista lainnya.
Di Indonesia sendiri, jembatan ini kerap dimanfaatkan untuk menunjang proses pemulihan pembangunan di wilayah pelosok yang sulit dijangkau, serta dibangun di lokasi terdampak bencana alam sebagai pengganti sementara jalur akses penghubung antarwilayah.
Baca juga: TNI dan warga gotong royong kebut pembangun jembatan di Sumut-Sumbar
Baca juga: Politik, dari rakernas PDIP hingga jembatan bailey di Aceh
Baca juga: TNI pasang jembatan bailey penghubung antardesa di Tapanuli Selatan
Pewarta: Nadine Laysa Amalia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































