ISKI Jatim ajak waspadai dampak digital pada remaja

8 hours ago 3
...Kita hidup di era di mana anak dan remaja terhubung secara digital 24 jam tetapi sering merasa tidak didengar secara emosional

Surabaya (ANTARA) - Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur mengajak masyarakat mewaspadai dampak tekanan digital terhadap kesehatan mental remaja menyusul rentetan kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya ketergantungan gawai di sejumlah daerah Indonesia akhir-akhir ini.

“Kita hidup di era di mana anak dan remaja terhubung secara digital 24 jam, tetapi sering merasa tidak didengar secara emosional,” ujar Ketua ISKI Jatim Dr Suko Widodo di Surabaya, Minggu.

Akademisi komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menyampaikan tekanan digital ini harus menjadi perhatian serius semua pihak: keluarga, sekolah, media, dan pemerintah.

Ia menilai paparan media sosial, permainan daring, dan penggunaan gawai berlebihan memberi dampak psikologis kompleks pada anak dan remaja, sehingga diperlukan keterlibatan aktif berbagai pihak untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Fenomena tersebut juga terlihat di Rumah Sakit Jiwa Menur (RSJ) Surabaya.

Baca juga: KemenPPPA: Kegiatan fisik cegah dampak negatif ranah digital pada anak

Direktur RSJ Menur Vitria Dewi menyatakan dalam dua tahun terakhir kasus gangguan jiwa pada anak dan remaja meningkat pesat, terutama akibat ketergantungan gawai dan gim daring.

Berdasarkan data RSJ Menur, sejak Januari hingga Juli 2024 sekitar 3.000 anak dan remaja menjalani terapi karena gangguan tersebut. Mayoritas dirawat akibat ketergantungan gawai yang memengaruhi perilaku dan perkembangan mental.

Persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan penanganan klinis, tetapi juga harus dilihat dari ilmu psikologi dan komunikasi, karena kecanduan digital berkaitan dengan perubahan perilaku, hubungan sosial, dan pemrosesan emosi anak serta remaja.

Untuk itu, ISKI Jawa Timur mengusulkan peningkatan literasi digital dan literasi emosional di sekolah serta keluarga, deteksi dini perubahan perilaku anak, perluasan akses layanan kesehatan mental, serta kampanye nasional mengenai bahaya ketergantungan gim daring dan tekanan media sosial.

“Kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya gangguan mental warga akibat gadged bukan hanya sekadar angka. Ini adalah realitas yang membutuhkan aksi bersama, bukan hanya respon setelah tragedi terjadi," ujarnya.

Baca juga: PP Tunas jadi langkah preventif dampak buruk media digital pada anak

Baca juga: Guru perlu pendekatan anak cegah dampak gim daring

Baca juga: Budaya lokal lindungi anak dari jebakan dunia digital

Pewarta: Willi Irawan
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |