Inggris susun rencana bangun gugus tugas untuk buka Selat Hormuz

5 hours ago 2

Washington (ANTARA) - Inggris telah mengusulkan pembentukan gugus tugas multinasional dan membagi rencana itu dengan AS dan negara-negara lain terkait permasalahan lalu lintas di Selat Hormuz, menurut Axios pada Selasa, mengutip beberapa sumber.

Pemerintah AS menginginkan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Australia, Kanada, Yordania, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam koalisi tersebut.

Tetapi, beberapa negara menanggapi inisiatif itu dengan skeptis, sementara yang lain menolak dengan tegas, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Mereka menambahkan bahwa rancangan Inggris tersebut belum diperlihatkan kepada semua negara yang diminta AS untuk bergabung.

"Situasinya kacau. Banyak orang bingung," kata seorang diplomat Eropa kepada Axios.

Pada Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan dari negara lain untuk menangani pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, dia mengklaim bahwa "banyak negara" telah mengatakan kepadanya bahwa mereka "sedang dalam upaya" untuk membantu AS.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar wilayah Iran telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Blokade juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Sumber: Sputnik-OANA

Baca juga: Uni Eropa tidak berminat perluas misi angkatan laut ke Selat Hormuz

Baca juga: Trump kritik Sekutu yang enggan gabung misi pengawalan di Selat Hormuz

Penerjemah: Katriana
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |