Kota Bogor (ANTARA) - Pergerakan pasar keuangan Indonesia belakangan menunjukkan tren yang semakin menantang ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan dalam beberapa sesi terakhir, sementara nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah cenderung menguat.
Fenomena ini mencerminkan kombinasi tekanan global yang intens, perpindahan preferensi investor global terhadap aset berdenominasi dolar AS, serta dinamika fundamental domestik yang masih dalam fase penyesuaian.
Baru-baru ini, IHSG tertekan tajam akibat sejumlah sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global. Analis pasar mencatat bahwa indeks komposit sempat berada di level terendah dalam rentang waktu tertentu, mencerminkan realokasi portofolio investor yang mengarah ke instrumen berisiko lebih rendah.
Sementara itu, rupiah berada di tekanan depresiasi terhadap dolar AS, mencatat level yang mendekati posisi terlemah dalam beberapa bulan terakhir, dengan angka yang mencerminkan tren melemah sejak awal Januari 2026.
Media juga melaporkan fenomena ini selaras dengan dinamika pasar global saat capital outflows dari pasar berkembang dan emerging markets menyebabkan tekanan jual atas instrumen risiko tinggi termasuk saham dan obligasi domestik, sementara safe-haven flows menguatkan dolar AS.
Kondisi ini diperkuat oleh data yang menunjukkan net sell asing pada pasar obligasi Indonesia baru-baru ini, yang turut menekan pasar domestik dan nilai tukar rupiah.
Salah satu penyebab fundamental tekanan pada IHSG dan rupiah adalah ketidakpastian kebijakan moneter global, khususnya di Amerika Serikat, yang menciptakan perbedaan daya tarik antara aset berdenominasi dolar AS dan aset di pasar negara berkembang.
Ketika prospek suku bunga AS tetap relatif tinggi atau ekspektasi pengetatan meningkat, return relatif atas obligasi AS menjadi lebih menarik dibandingkan yield di pasar negara berkembang, seperti Indonesia. Alhasil, modal global bergerak keluar dari pasar saham Indonesia dan instrumen berdenominasi rupiah, yang menekan IHSG dan memperlemah rupiah.
Meskipun Bank Indonesia berusaha dengan mempertahankan suku bunga kebijakan pada 7-day reverse repurchase rate sebesar 4,75 persen baru-baru ini untuk mendukung stabilitas mata uang dan pertumbuhan ekonomi, langkah tersebut juga mengisyaratkan bahwa ruang untuk pengetatan lebih lanjut makin terbatas di tengah fokus menjaga momentum pertumbuhan.
Risiko kepercayaan investor
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































