Guru Besar: Babel berpotensi penghasil karbon biru terbesar Indonesia

3 weeks ago 7

Pangkalpinang (ANTARA) - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Profesor Luky Adrianto menyatakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berpotensi sebagai daerah penghasil karbon biru "blue carbon", karena memiliki ekosistem pesisir dan laut yang besar.

"Kekayaan ekosistem pesisir dan laut daerah ini memiliki potensi ekonomi besar melalui perdagangan kredit karbon," kata Profesor Luky Adrianto di Pangkalpinang, Rabu.

Dia mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan terkait pengelolaan lingkungan pesisir dan laut di Kepulauan Babel

Ia mengatakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai blue carbon island, karena memiliki sumber daya alam pesisir, laut, pulau-pulau kecil dan hutan mangrove yang sangat luas.

"Memilihara ekosistem mangrove yang nantinya ada blue carbon free diserap dan kemampuan penyerapan tersebut dapat meningkatkan perekonomian Kepulauan Babel," katanya.

Ia menyatakan kemampuan menyerap satu ton carbon dijual menjadi satu ton karbon seperti yang ada di Jakarta yang berhasil melelang karbon senilai 358 Dolar Amerika Serikat per ton.

"Kalau potensi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah ini tentunya kemajuan perekonomian daerah ini semakin baik," katanya.

Ia berharap Gubernur Kepulauan Babel untuk membuat kebijakan dan memanfaatkan potensi karbon hijau ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah ini.

"Blue carbon ini tidak hanya memiliki potensi ekonomi tinggi, tetapi secara tidak langsung kita sudah menjaga dan memelihara ekosistem serta lingkungan pesisir dan laut di daerah kepulauan ini," katanya.

Baca juga: MPR: Pasar karbon harus jadi mesin pertumbuhan ekonomi hijau

Baca juga: Jakarta perlu hijaukan bangunan untuk tutupi kekurangan RTH

Baca juga: Menhut ungkap strategi Indonesia bangun ekosistem pasar karbon kuat

Pewarta: Aprionis
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |