Mataram (ANTARA) - Setiap musim barat tiba, gelombang tinggi dan pasang air laut kembali menjadi ancaman di banyak wilayah pesisir Indonesia. Fenomena rob dan abrasi tidak hanya mengikis garis pantai, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat yang menggantungkan diri pada laut.
Di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), ancaman ini terasa semakin nyata. Ombak tinggi yang menghantam kawasan pesisir seperti Pantai Ampenan, Bintaro, Pondok Prasi, dan Mapak membawa bukan hanya basah-basahan, tetapi juga ketakutan, kerusakan rumah, dan tertundanya aktivitas nelayan.
Pada akhir Desember 2025, gelombang setinggi 5–6 meter meluluhlantakkan puluhan rumah di Kampung Bugis, memaksa ratusan warga mengungsi sementara, sekaligus menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal.
Pemerintah Kota Mataram menanggapi dengan cepat, memasang batu boulder sepanjang 280-300 meter di Kampung Bugis, dan mendirikan tanggul darurat dari geobag dengan bantuan Balai Wilayah Sungai (BWS).
Sistem batu boulder yang dilepas berjejer dipilih agar tetap memungkinkan nelayan menurunkan perahu mereka tanpa terhalang. Pendekatan ini, walaupun efektif secara parsial, masih bersifat mitigasi jangka pendek.
Di sisi lain, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Mataram telah mengusulkan pembangunan pemecah gelombang permanen di Pantai Ampenan dan Bintaro, sebuah infrastruktur yang dirancang untuk menahan gelombang sekaligus melindungi aset publik dan rumah warga dari erosi terus-menerus. Usulan anggaran yang diajukan mencapai ratusan miliar rupiah, menandakan skala permasalahan yang tidak kecil.
Data menunjukkan, sekitar 500 Kepala Keluarga di Ampenan terdampak abrasi, dengan rumah yang berada di sempadan pantai paling rentan. Sementara itu, prediksi BMKG untuk gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter pada awal 2026 menambah urgensi langkah mitigasi.
Pemerintah daerah menyadari, selain strategi fisik, kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci menghadapi bencana tahunan ini.
Inovasi lokal
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































