Film "Sebelum Dijemput Nenek", seram yang lucu

2 weeks ago 13

Jakarta (ANTARA) - Film horor komedi terbaru bertajuk "Sebelum Dijemput Nenek" segera ditayangkan ke layar lebar Indonesia mulai 22 Januari.

Di kursi penyutradaraan, Fajar Martha Santosa bertindak mengarahkan jalannya cerita. Dia turut menulis skenario yang dibuat tidak mesti selalu monoton bersama penulis Sandi Paputungan.

Film justru dibuat mengejutkan karena elemen yang ditampilkan sebagai mix universe dengan memunculkan ikon "makhluk halus" dari sejarah panjang Rapi Films sebagai rumah produksi horor selama puluhan tahun di Indonesia.

Penonton akan dipertemukan kembali dengan jin Ummu Sibyan dan hantu guru pegawai negeri bernama Bu Woro dari jagat film "Waktu Maghrib" (2023) yang disutradarai oleh Sidharta Tata.

Tak hanya itu, terdapat juga eksistensi pocong hingga kuntilanak dalam karya Rapi Films sebelumnya, termasuk yang muncul dalam "Pengabdi Setan 2: Communion".

Tapi entitas gaib paling "juara" yang dimunculkan dalam film itu adalah modifikasi karakter Suster Ngesot yang tak disangka-sangka, ternyata bisa lari bukan cuma "ngesot" bikin seisi bioskop kaget sekaligus ngakak.

Petaka dimulai saat Hestu yang diperankan Angga Yunanda mendengar kabar neneknya yaitu Mbah Marsiyem (Sri Isworowati) wafat pada Jumat, 6 Juni, pukul 6 sore.

Waktu kematian yang membentuk angka 666 dipercaya dapat membuat arwah anggota keluarga yang meninggal dunia tidak hanya pergi ke alam baka sendirian, seperti mitos yang beredar dalam film "Sebelum Dijemput Nenek".

Mitos tersebut adalah sumber petaka yang membuat urusan menjadi panjang bagi Hestu dan saudara kembarnya, Akbar (Dodit Mulyanto).

Hanya tujuh hari waktu mereka untuk mencari tumbal "pengganti", supaya arwah sang nenek tidak mengajak salah satu di antara mereka untuk mati bersamanya.

Situasi berganti dari penyesalan mendalam Hestu atas ucapan sinisnya sendiri menjadi kepanikan.

Hestu menyadari bahwa ia pernah sembarangan berucap sinis bahwa ia "baru akan menginjakkan kaki di rumah jika sang nenek telah meninggal dunia".

Ternyata Mbah Marsiyem benar-benar dijemput maut dan Hestu pun mesti pulang lagi dengan enggan ke desa dan menyudahi sementara masa perantauannya di kota.

Saat Mbah Marsiyem dikebumikan, arwah sang nenek ternyata benaran muncul berkali-kali mengingatkan cucunya tentang keinginannya. "Temani mbah, ya," katanya lirih.

Hestu yang dibuat panik karena kemunculan penampakan arwah sang nenek terpaksa membuat rencana nekat untuk menumbalkan orang lain demi menyelamatkan nyawanya sendiri.

Dalam kepanikan tersebut, Hestu dan Akbar menetapkan tiga kriteria calon tumbal yang akan dimatikan, yaitu dari kelompok lansia yang hidup sendirian, orang dengan penyakit berat dengan dalih mengurangi penderitaan, hingga orang yang dianggap sampah masyarakat karena sering mengganggu ketenangan warga desa.

Baca juga: Oki Rengga bagikan rahasia fasih berbahasa Jawa di film terbaru

Komedi dan kritik sosial

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |