Dokter bagikan kiat “traveling” untuk ibu hamil

5 days ago 15

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Natasya Prameswari, Sp.OG membagikan kiat yang bisa dilakukan ibu hamil melakukan perjalanan jarak jauh atau traveling, termasuk pada masa kehamilan pada saat trimester kedua.

Menurut dia perjalanan jarak jauh pada ibu hamil masih diperbolehkan dengan syarat sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelumnya dan tidak ada penyulit pada saat kehamilan.

“Karena pada trimester kedua, biasanya kehamilan itu sudah tidak terlalu berisiko seperti di trimester pertama maupun di trimester tiga yang sudah mendekati persalinan,” kata dokter Natasya yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dalam wawancara bersama ANTARA, di Depok, Jawa Barat, Senin.

Baca juga: Perempuan hamil lebih rentan mengalami masalah gigi dan mulut

Baca juga: Daftar makanan yang perlu dihindari ibu setelah melahirkan

Ibu hamil, kata Natasya, saat akan perjalanan jarak jauh harus dengan kondisi yang membuat nyaman. Tidak disarankan berpergian jarak jauh dengan mode transportasi yang membuat ibu hamil tidak nyaman.

Bepergian menggunakan transportasi baik darat, laut, atau udara tetap diperbolehkan selama hamil, namun ada sejumlah perhatian khusus yang perlu dipertimbangkan demi menjaga kesehatan ibu dan janin.

Misalnya, ibu hamil untuk perlu mengenali gejala yang berpotensi membahayakan kehamilan, seperti kontraksi dan perdarahan. Oleh karena itu penting harus tahu di mana lokasi tujuannya itu mempunyai fasilitas kesehatan.

Ibu hamil yang melakukan perjalanan jarak jauh juga disarankan mengenakan stoking kompresi sebagai langkah pencegahan terhadap Deep Vein Thrombosis (DVT) atau pembekuan darah, serta minimal setiap 2 jam melakukan stretching atau pereggangan.

Stretching ringan, mungkin meregangkan kaki, meregangkan tangan, bahkan jalan-jalan asal tidak di dalam satu posisi terus-menerus setiap dua sampai tiga jam apabila traveling jarak jauh,” imbuh dia.

Baca juga: Dokter: Ibu hamil berisiko menjadi pasien hipertensi paru

Jika ibu hamil terpaksa harus menjalani jarak jauh sendiri, dokter Natasya menyarankan harus melaporkan status kehamilan kepada petugas atau pihak yang berwenang yang ditumpanginya, agar jika muncul masalah kesehatan selama perjalanan, dapat segera memberikan pertolongan.

Kemudian, pastikan sebelum traveling ibu hamil harus cek ke dokter kandungannya terlebih dahulu, agar memastikan kehamilannya itu dengan penyulit atau tanpa penyulit, dan diperbolehkan untuk terbang atau berpergian.

Dokter Natasya juga menyampaikan ibu hamil yang melakukan perjalanan sebaiknya tidak dianjurkan untuk membawa barang banyak melebihi kemampuannya.

“Ibu hamil saat traveling yang jelas harus membawa kartu identitas, pastikan ibu hamil itu membawa buku ping atau kontrolnya, apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ada buku kontrol dari sebelumnya yang bisa dilihat oleh dokter objek di tempat tujuan tersebut,” imbuh dia.

Lebih lanjut, dokter Natasya mengatakan bahwa risiko perjalanan pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh jarak tempuh dan tujuan perjalanan. Baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara, ibu hamil perlu memastikan kondisinya telah dinyatakan layak bepergian oleh dokter.

“Risikonya apabila ibu hamil itu capek, mengalami stres, itu bisa ada kondisi yang dinamakan kontraksi atau kontraksi palsu. Kalau kontraksi terus-menerus itu yang harus diwaspadai. Kondisi apabila ada pecah ketuban, keluar darah itu harus diperiksa lebih lanjut di fasilitas kesehatan,” ujar dia.

Baca juga: Waktu hingga manfaat olahraga untuk ibu hamil

Baca juga: Dokter: Akupuntur medik bisa kurangi keluhan selama kehamilan

Baca juga: Tiga nutrisi esensial yang baik untuk janin menurut ahli

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |