Dokter bagikan kiat atasi anak yang “picky eater”

3 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menyampaikan cara yang bisa dilakukan orang tua mengatasi anak yang memiliki kebiasaan terlalu pemilih makanan atau “picky eater”.

Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, dokter Ian menyarankan mengatasi anak yang picky eater dengan melakukan sensory play (permainan melatih sensorik) dengan berbagai tekstur makanan dan metode sensory food hierarchy secara bertahap.

“Kita atasi dulu picky eaternya, boleh lakukan misalnya sensory play dengan berbagai macam tekstur (makanan) cari segala macam ide-ide sensory play setiap harinya ada. Kemudian, Anda boleh belajar tentang sensory food hierarchy,” kata dokter Ian.

Menerapkan metode sensory food hierarchy membantu anak mengenal makanan melalui berbagai tahapan interaksi.

Baca juga: Kiat memastikan anak picky eater dapat asupan gizi selama puasa

Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyampaikan orang tua dapat mulai metode sensory food hierarchy dengan meletakkan makanan yang tidak disukai anak di dalam piring setiap hari.

Hal ini agar anak terbiasa melihat makanan tersebut tanpa dipaksa. Dalam proses sensory food hierarchy, anak biasanya akan melalui beberapa tahap seperti melihat makanan, merasa penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba memakannya.

“Kalau dia picky eater anaknya enggak mau makan daging sama sekali, tiap hari Anda harus kasih daging di dalam piring, suruh anak lihat terus, perkara dia enggak mau makan nggak apa-apa yang penting tiap hari dibiasain ada di situ. Lama-lama anak terbiasa melihat, pasti penasaran,” ujar dia.

Dokter Ian juga menyarankan orang tua untuk memastikan terlebih dahulu anak mengalami alergi susu sapi. Hal ini lantaran kerap terjadi terutama pada anak yang mengalami picky eater.

Menurut dia, kerap menemukan pasien yang diklaim alergi susu sapi, namun setelah diperiksa tidak memiliki alergi tersebut.

“Kalau semua susu tinggi kalori pasti yang namanya susu pasti mengandung susu sapi. Tapi ingat dulu nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau enggak,” imbuh dia.

Dokter Ian menyampaikan cara mengetahui anak alergi susu sapi atau tidak dengan mencoba memberikannya dan perhatikan apakah muncul gejala tertentu seperti ruam, muntah, batuk, atau pilek, setelah mengonsumsinya maka susu sapi sebaiknya dihentikan sementara.

“Kasih susu sapi kalau dia misalnya punya gejala terus stop susu sapinya selama 2-4 minggu gejalanya hilang secara konstan hilang. Terus Anda harus coba pakai susu sapi lagi, direchallenge lagi ternyata muncul gejala dalam 1-3 hari, maka memang betul anak itu alergi susu sapi,” kata dia.

Baca juga: Aturan makan dinilai bisa atasi anak pilah-pilih makanan

Baca juga: Nutrisionis: "Picky eater" beri dampak buruk pada tumbuh kembang anak

Baca juga: Picky Eater pada anak bisa sebabkan stunting

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |