DKI perlu perbanyak dialog sebelum relokasi pedagang Pasar Barito

3 months ago 13

Jakarta (ANTARA) - Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah mengemukakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu memperbanyak dialog dan sosialisasi sebelum merelokasi pedagang Pasar Hewan Barito ke lokasi barunya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

"Harusnya ada sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu. Masyarakat perlu diberi penjelasan mengapa pasar itu akan ditata ulang, apa urgensinya, dan bagaimana dampaknya terhadap mereka," katanya dihubungi di Jakarta, Selasa.

Trubus juga menilai komunikasi yang baik serta partisipasi publik dan dialog dua arah sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman dalam proses relokasi.

"Perlu ada semacam komunikasi timbal balik, ada dialog, mungkin bisa sejalan. Tapi ini 'kan sudah terlanjur (terjadi)," katanya.

Baca juga: Pedagang Barito tutup jalan perempatan Taman Ayodya imbas penertiban

Menurut dia, kebijakan penataan ruang memang penting untuk mendukung pembangunan kota yang tertib dan modern. Namun, relokasi tidak boleh dilakukan tanpa kesepakatan yang jelas antara pemerintah dan masyarakat yang terdampak.

"Penataan ruang itu perlu kesepakatan yang 'clear' (jelas). Kalau dipindah, kompensasinya juga harus memadai agar tidak menimbulkan masalah sosial baru," ujarnya.

Trubus juga mempertanyakan alasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memilih Pasar Barito sebagai lokasi penataan, padahal masih banyak pasar lain di Jakarta yang lebih membutuhkan pembenahan.

“Pasar Barito relatif tidak bermasalah. Justru banyak pasar lain yang membuat jalan macet dan semrawut tapi tidak ditata," katanya.

Baca juga: Sentra Fauna Lenteng Agung siap ditempati eks pedagang Pasar Barito

Ia juga berpendapat, jika Pemprov DKI berkeinginan menata Jakarta menjadi kota global, penataan kota seharusnya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di satu kawasan.

Trubus pun menyebutkan semua kawasan di Jakarta ideal menjadi pasar hewan, kecuali Jakarta Pusat (Jakpus).

Dia mengingatkan agar kebijakan relokasi pedagang dilakukan demi kepentingan publik dan masyarakat umum, bukan hanya kelompok tertentu yang ingin ambil untung.

"Yang dikhawatirkan masyarakat sebenarnya itu kalau nanti ujung-ujungnya dikuasai oleh swasta. Artinya sengaja menggusur masyarakat kecil hanya untuk memberi akses kepada mereka yang punya cuan," ujarnya.

Baca juga: DKI ungkap praktik penyalahgunaan izin sewa kios di Pasar Barito

Sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Jaksel) menertibkan 158 kios pedagang Pasar Barito pada Senin (27/10) lalu.

Penertiban terpadu dilakukan setelah dilayangkan tiga tahap surat peringatan kepada pedagang lokasi sementara (loksem) JS 25, 26, 30 (Jalan Barito) dan 96 (Jalan Gandaria Tengah III) sejak awal Oktober lalu.

Pada pedagang diminta untuk segera bersiap direlokasi ke lokasi yang telah disediakan di kawasan Sentra Fauna Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Relokasi pedagang di Pasar Barito berkaitan dengan rencana Pemprov DKI Jakarta untuk menggabungkan tiga taman di Jakarta Selatan, yakni Taman Leuser, Taman Ayodya dan Taman Langsat menjadi Taman Bendera Pusaka yang ditargetkan rampung pada Desember 2025.

Pewarta: Ade irma Junida/Juliyanti
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |