Djumala: Keluarnya AS dari organisasi internasional untungkan China

4 weeks ago 13
Turunnya peran AS di dunia internasional akibat keluarnya AS dari beberapa organisasi dunia tidak serta merta akan digantikan oleh China. Tapi keputusan AS itu dalam jangka panjang akan menguntungkan posisi China dalam forum-forum multilateral

Jakarta (ANTARA) - Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala menilai keputusan politik Amerika Serikat (AS) untuk keluar dari 66 organisasi internasional (31 entitas PBB, dan 35 non-PBB) akan menguntungkan China.

"Turunnya peran AS di dunia internasional akibat keluarnya AS dari beberapa organisasi dunia tidak serta merta akan digantikan oleh China. Tapi keputusan AS itu dalam jangka panjang akan menguntungkan posisi China dalam forum-forum multilateral," kata Djumala dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Djumala mengatakan organisasi yang ditinggalkan AS itu, di antaranya menangani isu iklim, pembangunan berkelanjutan, tenaga kerja, dan migrasi.

AS beralasan bahwa misi forum-forum internasional itu bertentangan dengan kepentingan AS, telah dikuasai oleh kepentingan negara-negara yang memiliki agenda sendiri yang bertentangan dengan kepentingan nasional AS sehingga dinilai sebagai ancaman bagi kedaulatan, kebebasan, dan kemakmuran bangsa Amerika.

Dari aspek kelembagaan, AS menilai organisasi-organisasi yang ditinggalkan itu cakupan isunya terlalu luas, tidak diperlukan lagi untuk kepentingan AS, tata kelola yang salah urus dan boros.

Dalam pandangan Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB, keputusan AS itu menandai sebuah pergeseran penting dalam kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut.

Keputusan itu. lanjut dia, merupakan ramifikasi dari perubahan kebijakan luar negeri AS yang kini menunjukkan menguatnya pendekatan unilateralisme dan nasionalisme ekonomi dalam politik domestik AS.

Selain dianggap membebani keuangan negara, AS melihat organisasi internasional dianggap tidak sejalan dengan kepentingan langsung AS, terutama forum multilateral yang menangani isu HAM, lingkungan, kesehatan global, dan tata kelola internasional yang dinilai membatasi ruang manuver kebijakan domestik dan bilateral AS.

Djumala mengkhawatirkan multilateralisme yang selama ini bertumpu pada kepemimpinan negara besar menghadapi krisis kepercayaan. Kekosongan peran AS tidak secara otomatis digantikan oleh dapat negara lain sehingga banyak lembaga internasional kehilangan daya dorong politik, pendanaan, dan kapasitas implementasi.

Djumala menekankan bagi negara berkembang, dampaknya terasa lebih nyata dan langsung. Banyak dari mereka selama ini memanfaatkan organisasi internasional sebagai sumber bantuan teknis, pendanaan pembangunan, transfer pengetahuan serta perlindungan normatif dalam isu-isu krusial seperti kesehatan, pendidikan, pangan, pengungsi, dan perubahan iklim.

Menurut Djumala, berkurangnya kontribusi AS itu dapat menyusut program-program di atas. Namun demikian, keluarnya AS dari berbagai organisasi internasional membuka ruang yang dapat dimanfaatkan China untuk memperluas pengaruhnya dalam pengambilan keputusan global.

Bagi negara Global South, absennya AS justru membuat China dinilai sebagai mitra yang diandalkan, terutama dalam pembiayaan pembangunan dan infrastruktur.

"Dalam forum internasional, dukungan China sering dipersepsikan lebih pragmatis dan tidak bersyarat secara politik. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi China sebagai aktor sentral dalam membangun konsensus dalam isu-isu pembangunan di berbagai organisasi internasional," ujar Djumala.

Baca juga: Dewan Pakar BPIP: Tak ada pembenaran serangan AS terhadap Venezuela

Baca juga: Komisi XIII DPR: Prinsip bernegara harus diperkuat lewat RUU BPIP

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |