Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mendorong pedagang pasar rakyat menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mempermudah transaksi jual-beli pangan tanpa mengurangi ketergantungan uang kembali secara tunai.
Ditemui usai peninjauan harga pangan di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Senin, Rizal menegaskan penggunaan layanan QRIS dinilai lebih efektif dan efisien, terutama dalam menjaga harga jual Minyakita agar sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
"Kita mendorong ke teman-teman pedagang pengecer gunakan QRIS, itu lebih efektif dan lebih efisien (untuk transaksi jual beli)," kata Rizal.
Ia menekankan hal itu menyusul adanya temuan pelanggaran harga Minyakita saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur bersama Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman.
Baca juga: Amran fokus kejar produsen pelanggar HET, bukan pedagang kecil
Selain itu, Rizal mengaku dirinya bersama Satgas Pangan dan Bapanas juga sempat menemukan adanya Minyakita yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp15.7000 per liter di Pasar Rawamangun Jakarta, pada Rabu (24/12).
Dari hasil peninjauan tersebut, pedagang yang berdalih menjual Minyakita dengan harga Rp16.000 per liter lantaran susah mencari uang kembali.
Atas hal tersebut, Rizal mendorong agar pedagang menggunakan pembayaran digital QRIS, dengan begitu pedagang tidak akan mengalami kesulitan dalam memberikan pengembalian uang tunai.
Ia mengingatkan pedagang agar tetap menjaga kelancaran dan kenyamanan transaksi, terutama ketika menghadapi keterbatasan uang kembali dalam nominal kecil, seperti Rp300.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































