DBS: Ekonomi AS memasuki era dominasi fiskal semakin menonjol

3 weeks ago 7
Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter,

Jakarta (ANTARA) - Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook mengatakan, ekonomi Amerika Serikat (AS) memasuki era dominasi fiskal semakin menonjol.

“Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jakarta, Rabu.

Setiap pelemahan kemandirian Federal Reserve, dinilai dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan memaksa pasar untuk menuntut premi risiko lebih tinggi.

Apabila pelonggaran fiskal dan moneter terus berlanjut tanpa kendali, lanjutnya tekanan harga akan semakin meningkat karena ketidakhadiran kerangka fiskal komprehensif untuk mengendalikan utang publik, bukan tarif atau kendala pasokan, yang merupakan pendorong utama inflasi.

Baca juga: DBS: Stabilitas ekonomi makro Indonesia lebih baik dari tahun lalu

“Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis. Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik selama siklus inflasi, sehingga menjadi elemen yang tak tergantikan dalam strategi saat ini,” ungkap Hou.

Namun, kata dia, inflasi bukanlah satu-satunya pergeseran struktural yang membentuk kembali pasar. Deglobalisasi yang dipercepat oleh kebijakan proteksionis seperti “America First” telah menimbulkan dua dampak negatif, yaitu aliran perdagangan melemah dan biaya produksi lebih tinggi.

Kendati menghadapi tantangan tersebut, momentum makro disebut tetap kuat berkat siklus investasi modal yang kuat.

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pengeluaran pertahanan memimpin tren ini. Hyperscalers (penyedia layanan cloud) saja diperkirakan mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun dolar AS ke infrastruktur AI antara tahun 2025 hinga 2027, sementara anggaran pertahanan NATO diprediksi naik dari 2 persen menjadi 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2035.

Baca juga: DBS: Banyak negara tingkatkan belanja fiskal guna dukung agenda sosial

Komitmen ini disebut mewakili angin segar struktural yang berpotensi mendefinisikan ulang lanskap industri dan teknologi.

Di sisi lain, lonjakan AI memperlihatkan ciri-ciri pasar yang euforia, termasuk valuasi tinggi, risiko konsentrasi, dan antusiasme spekulatif.

Meski demikian, berbeda dengan lonjakan dotcom, latar belakang makro dan kebijakan saat ini jauh lebih solid. Rencana belanja Big Tech, walaupun besar, tetap sebanding dengan PDB.

“Kami menyadari bahwa kelengahan bisa berbahaya. Munculnya circular financing, tren di mana perusahaan mendanai pertumbuhan satu sama lain, mengingatkan pada praktik vendor financing pada akhir 1990-an, dan karenanya perlu diawasi secara ketat untuk mengidentifikasi potensi kerentanan sistemik,” kata dia.

Baca juga: DBS Raih Gelar "Global Bank of the Year 2025" dari The Banker

Seiring The Fed beralih ke pemotongan suku bunga dalam lingkungan non-resesi, tekanan harga kemungkinan dinyatakan akan terus meningkat.

Aset riil tetap menjadi lindung nilai paling efektif terhadap inflasi yang persisten. Dengan membandingkan kinerja relatif perak dan S&P 500 sebagai proksi untuk aset riil dan aset keuangan yang lebih luas masing-masing, DBS melihat posisi investor telah mencapai tingkat ekstrem, menciptakan peluang untuk diversifikasi.

Singkatnya, lanjut Hou, memasukkan aset riil yang tangible merupakan langkah strategis dibandingkan sekadar langkah defensif.

Lebih lanjut, aliran modal spekulatif ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mendorong saham-saham berisiko tinggi (high beta) ke level yang sangat tinggi, didukung aliran dana ke ETF (Exchange-Traded Fund) yang menggunakan leverage.

Baca juga: Rupiah melemah seiring ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung

Pasar kredit juga menunjukkan kinerja unggul obligasi dengan imbal hasil tinggi (high yield) yang telah mencapai batasnya.

“Untuk kuartal-kuartal mendatang, ketahanan akan berasal dari fokus pada kualitas, yang mengarah pada rekomendasi kami untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas dan obligasi dengan peringkat investasi (investment grade),” ucap Chief Investment Officer Bank DBS.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |