Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan pembentukan holding maskapai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan selesai pada semester I 2026.
Holding maskapai BUMN akan terdiri dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), anak perusahaan GIAA yaitu PT Citilink Indonesia, serta PT Pelita Air Service yang merupakan lini bisnis maskapai PT Pertamina (Persero).
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas dalam Exclusive Group Interview di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis, menjelaskan pembentukan holding maskapai BUMN akan menciptakan efisiensi dan optimalisasi sistem pemesanan dari ketiga perusahaan.
"Holdingisasi dari Pelita, Citilink, dan Garuda artinya satu booking, satu Garuda point, mileage, registration, bahkan seat-nya bisa saling tukar dan sebagainya. Itu pasti bisa lebih efisien. Jadi optimalisasi dari sistem booking," ujar Rohan .
Dari sisi penambahan jumlah pesawat, Ia melanjutkan dengan bergabungnya ketiga maskapai, maka masalah keterbatasan armada yang dialami oleh masing-masing perusahaan dapat teratasi, apalagi jika memiliki rute penerbangan yang sama.
"Jumlah pesawatnya jadi lebih banyak kalau bergabung. Rute yang sama bisa di masing-masing hanya 60 persen, kalau digabung penuh dua-duanya, tujuannya Surabaya misalkan yang paling populer. Citilink ada Surabaya, Pelita ada Surabaya, Garuda ada Surabaya, kenapa enggak satu flight?" ujar Rohan.
Seiring penggabungan sistem booking dan kerja sama ketiga perusahaan, pihaknya berharap dapat menjadi tambahan pendapatan bagi maskapai, terutama Garuda Indonesia yang saat ini masih berjuang untuk meraih keuntungan (profit).
"Hopefully ya segera di semester I 2026, karena itu sangat krusial untuk mendapatkan extra income tanpa menambah pesawat," ujar Rohan.
Namun demikian, Rohan belum dapat menjelaskan secara rinci skema holding yang akan dibentuk dan kerja sama operasional yang akan terjalin di antara ketiga maskapai tersebut.
"Bagaimana bentuknya, merger atau apa, itu yang harus kita segera putuskan. Karena itu harus berhitung ya, bukan sekadar gabung atau beraliansi. Karena itu masalah pembukuan, masalah menggabungkan itu enggak mudah juga," ujar Rohan.
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menargetkan proses konsolidasi holding maskapai BUMN ditargetkan rampung pada kuartal I 2026.
Dalam skema tersebut, Garuda Indonesia ditetapkan sebagai induk holding.
“Garuda Indonesia akan menjadi induk holding. Di bawahnya nanti ada Citilink dan Pelita Air,” ujar Dony.
Baca juga: Erick sebut merger Garuda Indonesia-Pelita masuk peta jalan 6 bulan
Baca juga: Garuda Indonesia fokus perbaiki pesawat setelah disuntik Rp23,67 T
Baca juga: Garuda Indonesia hingga Juni tahun ini operasikan 70 rute penerbangan
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































