Jakarta (ANTARA) - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai eskalasi ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela perlu diantisipasi melalui penguatan mitigasi risiko dan diversifikasi investasi energi Indonesia, terutama pada aset luar negeri.
Executive Director CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan situasi AS-Venezuela saat ini mencerminkan disrupsi besar yang meningkatkan risiko investasi, khususnya di sektor energi.
“Kondisi ini merupakan disrupsi yang cukup besar sehingga Indonesia perlu memperkuat diversifikasi, tidak hanya tujuan ekspor, tetapi juga negara tujuan investasi,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Ia menilai ketidakpastian politik dan tekanan geopolitik membuat Venezuela semakin kurang prospektif bagi investasi jangka menengah hingga panjang, sehingga perlu dipertimbangkan penyesuaian portofolio investasi ke negara lain.
Menurut Faisal, perkembangan terbaru menunjukkan risiko investasi di Venezuela meningkat, termasuk bagi sektor energi, sehingga langkah mitigasi risiko menjadi penting untuk menghindari potensi kerugian negara di masa mendatang.
“Dalam jangka pendek mungkin belum terlihat dampak konkret, tetapi untuk jangka menengah, risikonya cukup besar dan perlu diantisipasi sejak dini,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai ketegangan geopolitik global itu menjadi pelajaran penting bagi ketahanan energi nasional.
Bhima mengatakan aset energi di wilayah dengan tingkat konflik tinggi cenderung menghadapi risiko distribusi dan operasional yang lebih besar, sehingga diperlukan strategi pengamanan yang matang.
“Ini momentum bagi Indonesia untuk meninjau ulang strategi investasi energi agar lebih tangguh terhadap risiko geopolitik,” ujar Bhima.
Ia menambahkan diversifikasi energi, termasuk penguatan investasi pada energi terbarukan, dapat menjadi langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Penguatan investasi pada energi terbarukan seperti panel surya, tenaga angin, dan energi air dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok energi fosil di wilayah konflik," tambah dia.
Ia menilai langkah pemantauan berkelanjutan dan diversifikasi strategi investasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan aset energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Sebelumnya, situasi Venezuela sendiri masih berada dalam ketidakpastian setelah gerakan operasi militer AS dan klaim Presiden AS Donald Trump terkait "kesepakatan" penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
Di sisi korporasi, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menyatakan merupakan pemegang saham mayoritas 71,09 persen pada perusahaan migas Prancis Maurel & Prom (M&P), yang mengelola salah satu aset migas di Venezuela.
PIEP menyampaikan hingga kini belum terdapat dampak terhadap aset dan staf Maurel & Prom di Venezuela, serta terus memantau dinamika situasi dan berkoordinasi dengan KBRI Caracas sebagai langkah kehati-hatian.
Baca juga: Pakar sebut AS akan tekan harga minyak dunia di bawah 60 dolar AS
Baca juga: CSIS nilai dampak konflik AS-Venezuela ke RI terbatas
Baca juga: Rupiah melemah seiring ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































