Lembang, Jawa Barat (ANTARA) - Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum (Perum) BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengarahkan Perum Perhutani untuk melakukan perdagangan karbon atau carbon trading sebagai salah satu bagian dari transformasi bisnis perusahaan.
“Transformasi ke depan, diharapkan itu Perhutani bisa juga melakukan carbon trading,” ucap Roziqin ketika dijumpai dalam acara temu media di Lembang, Jawa Barat, Kamis.
Roziqin mengacu pada keberhasilan China dalam melakukan perdagangan karbon dengan pendapatan yang melebihi Rp50 triliun.
Ia meyakini, luasnya hutan di Indonesia memiliki peluang untuk menghasilkan pemasukan dari perdagangan karbon sebagaimana yang berhasil dilakukan oleh China. Oleh karena itu, ia mendorong Perhutani untuk melakukan hal serupa.
“Carbon trading ini ada potensi yang sangat besar untuk Perhutani bisa mendapatkan revenue,” ucap Roziqin.
Ia menyampaikan hitungan potensi pendapatan Perhutani dari perdagangan karbon masih sangat kasar. Meskipun demikian, ia memperkirakan setidaknya Perhutani bisa menghasilkan Rp1–2 triliun dari perdagangan karbon.
“Tapi tidak bisa langsung Rp1 triliun. Mungkin bertahap, tahun pertama mungkin Rp100–200 miliar,” kata dia.
Pendapatan dari perdagangan karbon itu, lanjut dia, dapat digunakan untuk operasional perusahaan dan menggantikan pendapatan dari penebangan kayu.
Setelah target tersebut tercapai, Roziqin meyakini Perhutani dapat fokus untuk menebang pohon-pohon yang benar-benar sudah matang, seperti pohon berusia 30–40 tahun.
Untuk itu, masuknya Perhutani ke perdagangan karbon tak hanya mendatangkan pendapatan bagi perusahaan, tetapi juga menjaga kelestarian hutan Indonesia.
“Jadi, (pohon) yang sudah tua ditebang dan itu sangat selektif. Akan sangat-sangat selektif karena sudah mendapatkan insentif dari carbon trading ini,” kata Roziqin.
Baca juga: Menteri LH: Pengembangan pasar karbon harus berbasis aksi iklim nyata
Baca juga: Kemenhut: Peningkatan kapasitas SDM kunci pengembangan pasar karbon
Baca juga: Kemenkop-KemenLH siapkan koperasi masuk ke perdagangan karbon
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































