Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat upaya deradikalisasi terhadap mitra deradikalisasi atau mantan narapidana terorisme (napiter) melalui pendekatan dialog dan penguatan Islam Wasathiyah.
Pendekatan dilakukan dengan menggandeng ulama kharismatik Kiai Haji Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam kegiatan bertajuk Silaturahmi Kebangsaan Bersama Tokoh Agama dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama yang digelar di Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), Rembang, Jawa Tengah, Senin (22/12).
"Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam melakukan pemberantasan radikalisme dan terorisme secara komprehensif, terukur, dan berlandaskan hukum," kata Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono dalam kesempatan tersebut, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Islam Wasathiyah adalah konsep Islam moderat yang mengambil jalan tengah (tidak ekstrem kanan atau kiri) dalam beragama, menekankan keseimbangan, keadilan, toleransi, dan kebijaksanaan dalam semua aspek kehidupan, berdasarkan pemahaman komprehensif Al-Qur'an dan Sunnah, serta relevan dengan konteks zaman.
Ia menyampaikan Indonesia hingga saat ini merupakan satu-satunya negara di dunia yang mencantumkan definisi terorisme secara formal dalam peraturan perundang-undangan.
Hal tersebut, kata dia, menunjukkan keseriusan para perumus kebijakan dan aparat penegak hukum dalam melakukan penanggulangan terorisme secara tepat sasaran.
Eddy menjelaskan keberadaan definisi formal tersebut menjadi pijakan penting agar penanganan terorisme tidak dilakukan secara serampangan, tetapi melalui pendekatan hukum yang jelas serta dilengkapi dengan upaya pencegahan dan pembinaan.
Lebih lanjut, ia memaparkan berbagai fungsi yang dijalankan BNPT dalam melaksanakan tugas penanggulangan terorisme di Indonesia.
Fungsi utama BNPT meliputi perumusan, pengoordinasian, serta pelaksanaan kebijakan, strategi, dan program nasional penanggulangan terorisme yang mencakup bidang kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi.
“Selain itu, BNPT juga bertugas mengoordinasikan kerja sama antarpenegak hukum dalam penanggulangan terorisme serta merumuskan, mengoordinasikan, dan melaksanakan kebijakan, strategi, serta program nasional di bidang kerja sama internasional,” ucap Eddy.
Dirinya turut menjelaskan definisi terorisme sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Menurutnya, terorisme merupakan perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban massal, serta menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.
Ia menegaskan pemahaman yang utuh terhadap definisi tersebut penting agar masyarakat dapat membedakan antara ajaran agama yang benar dengan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Kegiatan yang berlangsung secara luring tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang merupakan mitra deradikalisasi BNPT. Selain itu, kegiatan juga terhubung secara daring dengan enam lembaga pemasyarakatan di sejumlah daerah, sehingga total peserta yang mengikuti acara mencapai tidak kurang dari 223 orang mitra deradikalisasi dan napiter.
Kepala BNPT pun menyambut keikutsertaan para mitra deradikalisasi, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring, sebagai bagian penting dari proses berkelanjutan dalam membangun kesadaran kebangsaan dan pemahaman keagamaan yang moderat.
Acara Silaturahmi Kebangsaan yang dilangsungkan di lingkungan pondok pesantren asuhan Gus Baha itu kemudian diisi dengan ceramah keagamaan. Gus Baha menegaskan pengajian dan dialog tersebut dilaksanakan murni sebagai ikhtiar mencari rida Allah SWT, bukan karena permintaan BNPT sebagai representasi pemerintah.
“BNPT hanya memfasilitasi agar saya bisa bertemu dan berdialog langsung dengan para mitra deradikalisasi. Pengajian ini bukan atas pesanan siapa pun,” ujar Gus Baha.
Dia menekankan dialog merupakan metode utama yang ditempuh para nabi dan rasul dalam menyampaikan kebenaran Islam di setiap zamannya.
Dengan demikian, sambung dia, kekerasan bukan merupakan jalan dakwah, apalagi jika diklaim sebagai bentuk pembelaan terhadap agama.
Ia juga mengajak para peserta untuk mengedepankan rasa syukur dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara Indonesia. Dia berpendapat jika hanya mencari kekurangan, maka berbagai persoalan di Indonesia tidak akan pernah habis untuk diperdebatkan.
Meski begitu, menurutnya, Indonesia telah memberikan ruang yang luas bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah secara aman dan damai tanpa konflik berkepanjangan.
Dalam konteks deradikalisasi, Gus Baha berpesan kepada para mitra deradikalisasi agar memiliki kemampuan mengenali kebenaran dalam beragama.
Dirinya menegaskan kebenaran hakiki dalam keimanan dapat dikenali dari kemampuannya untuk diterima oleh akal sehat dan masyarakat luas.
Oleh karena itu, lanjut dia, pemaksaan ajaran agama secara radikal, terlebih yang berujung pada tindakan terorisme, dengan sendirinya tertolak sebagai kebenaran yang dapat dipercaya.
“Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang mampu diterima oleh akal sehat dan masyarakat secara umum. Jika sebuah kebenaran harus dipaksakan dengan kekerasan, maka ia bukanlah kebenaran yang sejati,” ungkapnya.
Melalui kegiatan Silaturahmi Kebangsaan, BNPT berharap proses deradikalisasi dapat berjalan lebih efektif dengan melibatkan tokoh agama yang memiliki otoritas keilmuan dan keteladanan moral.
Pendekatan dialog keagamaan berbasis Islam Wasathiyah diharapkan mampu memperkuat kesadaran kebangsaan sekaligus menumbuhkan sikap toleran di tengah masyarakat.
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































