BNPB minta jaringan air bersih terhubung ke seluruh huntara di Aceh

6 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta jaringan pipa air bersih berfungsi dan terhubung ke seluruh rumah hunian sementara (huntara) yang dihuni penyintas bencana di Provinsi Aceh.

Keterhubungan jaringan pipa air bersih itu menjadi salah satu perintah yang diinstruksikan Suharyanto, selaku Kepala BNPB sekaligus Wakil Ketua II Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera kepada petugas lapangan dalam peninjauannya ke lokasi huntara di wilayah Pulo Tiga, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (25/2).

Sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, Suharyanto mengungkapkan bahwa air bersih termasuk kebutuhan yang mendesak selain logistik sembako bagi penyintas bencana di Aceh demi menunjang kelancaran mereka selama menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

"Percepat pemenuhan kebutuhan mendesak, termasuk penyediaan suplai air bersih melalui jaringan pipa yang terhubung langsung ke fasilitas penampungan air di lokasi huntara," kata dia.

Suharyanto beserta jajaran pimpinan BNPB dalam beberapa hari kedepan dijadwalkan akan melakukan peninjauan sekaligus mendistribusikan bantuan logistik tambahan untuk ibadah puasa ke sejumlah penghuni huntara di wilayah Provinsi Aceh, antara lain Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Langsa.

Berdasarkan data Posko Satgas PRR wilayah Aceh sudah sebanyak 8.562 unit rumah huntara yang didirikan pemerintah sampai dengan dasarian kedua Februari di provinsi itu.

Adapun huntara di Pulo Tiga merupakan fasilitas respons cepat kebencanaan yang dibangun oleh BNPB dan sudah dilengkapi fasilitas sumur, kamar mandi, WC, dapur dan jaringan listrik.

BNPB melaporkan ada sebanyak 30 keluarga yang menghuni huntara Pulo Tiga, sekaligus huntara yang sudah dimanfaatkan dalam sepekan terakhir menyusul 1.295 unit huntara lainnya di Kabupaten Aceh Tamiang.

Para pengungsi yang menempati huntara Pulo Tiga merupakan warga dari Dusun Tempel, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang yang direlokasi pemerintah dari kampungnya karena rumah mereka hancur akibat banjir bandang pada akhir November 2025.

Baca juga: Bansos kuartal I cair 90 persen, juga untuk penyintas bencana Sumatera

Baca juga: Unsam beri pendampingan kesehatan mental bagi korban bencana Aceh

Baca juga: Kapendam: Pembangunan jembatan gantung di Aceh Tengah capai 57 persen

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |