BMKG: Waspada curah hujan tinggi di pesisir barat Sumatera pada 2026

1 month ago 16
Rekomendasi kami pemerintah daerah (pemda) memperkuat langkah mitigasi bencana dengan memanfaatkan prakiraan iklim jangka menengah sebagai dasar perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat di pesisir barat Pulau Sumatera untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas tinggi pada 2026, meskipun secara umum curah hujan nasional diprakirakan berada dalam kategori normal.

Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers bertajuk "Climate Outlook 2026" di Jakarta, Selasa, mengatakan curah hujan tahunan di Indonesia pada 2026 diperkirakan berkisar antara 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun, sesuai dengan pola klimatologi yang telah sering terjadi pada periode sebelumnya.

“Kondisi ini masih tergolong normal dan tidak menunjukkan adanya anomali ekstrem secara nasional,” kata dia.

Baca juga: BMKG paparkan kondisi iklim 2026, lebih stabil dan tak seekstrem 2024

Namun demikian ia menegaskan sejumlah wilayah tetap memiliki potensi hujan tinggi, terutama di pesisir barat Pulau Sumatera, yang dipengaruhi oleh suhu permukaan laut Samudra Hindia yang relatif hangat serta faktor orografis Pegunungan Bukit Barisan.

BMKG memaparkan hujan dengan intensitas tinggi berpeluang terjadi pada Januari-Februari serta November-Desember 2026, dengan wilayah pesisir barat Sumatera seperti Aceh, Sumatera Barat hingga Bengkulu, perlu meningkatkan kewaspadaan pada puncak musim hujan.

Selain pesisir barat Sumatera, BMKG juga memprakirakan potensi hujan tinggi terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi Tengah, dan Papua. Sementara periode Mei hingga September 2026 diperkirakan menjadi fase kemarau basah yang masih disertai dengan hujan.

Baca juga: BMKG: Sejumlah wilayah berpotensi diterpa suhu tinggi pada 2026

BMKG menilai meskipun sifat hujan secara umum normal, intensitas hujan yang terjadi secara lokal berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, khususnya di wilayah rawan.

Ardhasena menegaskan kalender iklim tersebut penting bagi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan kebencanaan, serta menyediakan pembaruan prakiraan dasarian dan bulanan sebagai rujukan perencanaan jangka pendek.

"Rekomendasi kami pemerintah daerah (pemda) memperkuat langkah mitigasi bencana dengan memanfaatkan prakiraan iklim jangka menengah sebagai dasar perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana," ucapnya.

Baca juga: BMKG: Waspada hujan sedang-sangat lebat di Jabar hingga 28 Desember

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |