Bantu Pak Elat, Babinsa bersama warga Bengkayang mandiri perbaiki RTLH

8 hours ago 2
Kami bergerak karena alasan kemanusiaan. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali, sementara Pak Elat hidup bersama istri dan lima anaknya yang masih kecil

Bengkayang (ANTARA) - Babinsa Koramil Samalantan, Kodim Bengkayang, Serda Dirus bersama warga Dusun Puaje, Desa Mekar Baru, bergotong royong membangun kembali Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik seorang warga kurang mampu bernama Pak Elat sebagai bentuk kepedulian sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan bedah rumah tersebut dilakukan secara swadaya tanpa dukungan anggaran khusus, menyusul kondisi rumah Pak Elat yang dinilai membahayakan keselamatan penghuninya.

"Struktur bangunan lama sudah lapuk, dinding dan atap tidak kokoh, serta berisiko roboh terutama saat hujan dan angin kencang," kata Serda Dirus di Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar), Selasa.

Serda Dirus mengatakan kegiatan ini berawal dari laporan pemerintah desa dan warga terkait kondisi rumah Pak Elat. Setelah dilakukan pengecekan langsung ke lapangan, dia menilai perbaikan tidak bisa lagi ditunda karena menyangkut keselamatan satu keluarga.

“Kami bergerak karena alasan kemanusiaan. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali, sementara Pak Elat hidup bersama istri dan lima anaknya yang masih kecil,” kata Serda Dirus.

Baca juga: Menteri PKP: Gotong royong renovasi RTLH guna tekan kesenjangan sosial

Ia menjelaskan pembangunan rumah berukuran sekitar 5x7 meter itu diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp48 juta. Namun karena keterbatasan dana, pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan menekan biaya dan memaksimalkan swadaya masyarakat.

Dalam pelaksanaannya warga Dusun Puaje secara sukarela terlibat mengangkut material, membangun pondasi, hingga merangkai struktur rumah.

"Seluruh pekerjaan dilakukan tanpa upah, mengandalkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial," ujarnya.

Dia berharap adanya dukungan dari para dermawan dan pihak terkait agar pembangunan rumah Pak Elat dapat segera rampung dan memberikan tempat tinggal yang aman serta layak bagi keluarganya.

Pak Elat yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap karet mengaku tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumahnya.

Baca juga: Beranda - Kabupaten Bengkayang ingin bebas rumah tidak layak huni

"Penghasilan kami hanya dari menoreh karet dan selama ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga," katanya.

Ia mengucapkan terima kasih untuk Babinsa, pihak desa, dan warga yang sudah bergotong royong membangun rumah miliknya.

Sementara itu Kepala Desa Mekar Baru Cipto menyampaikan pihak desa telah beberapa kali mengusulkan program rehabilitasi rumah tidak layak huni ke pemerintah daerah. Namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.

“Dengan kondisi anggaran desa yang terbatas, satu-satunya cara adalah menggerakkan gotong royong masyarakat. Ini menjadi solusi sementara agar warga tetap bisa merasakan kehadiran negara,” ujarnya.

Cipto menambahkan masih terdapat sejumlah rumah warga lain di wilayah Desa Mekar Baru yang membutuhkan bantuan serupa. Namun penanganannya harus dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan dukungan yang tersedia.

Baca juga: Miris, satu keluarga tinggal di gubuk beralaskan tanah

Pewarta: Narwati
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |