Banjir lumpur Gunung Slamet ganggu layanan air bersih di Banyumas

1 week ago 12

Purwokerto (ANTARA) - Pelaksana Tugas Direktur Utama Perumdam Tirta Satria Banyumas Wipi Supriyanto mengatakan banjir lumpur di kaki Gunung Slamet berdampak pada sejumlah sumber mata air sehingga mengganggu pelayanan air bersih kepada pelanggan di beberapa wilayah Kabupaten Banyumas.

"Beberapa sumber mata air di kaki Gunung Slamet terdampak banjir lumpur, sehingga air bercampur material lumpur masuk ke brown capturing kami dan otomatis memengaruhi proses pengolahan serta pelayanan kepada pelanggan," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Ia mengatakan banjir lumpur yang terjadi pada Sabtu (24/1) dini hari tersebut menyebabkan Perumdam Tirta Satria harus melakukan pembuangan lumpur dan air keruh di jaringan distribusi, sehingga pelayanan kepada pelanggan sempat terganggu.

Menurut dia, kondisi sempat membaik dan air mulai kembali jernih, namun hujan kembali turun dan memicu banjir lumpur susulan.

"Secara pelan-pelan sudah mulai membaik dan jernih kembali, tetapi tiba-tiba datang lumpur lagi karena banjir (di wilayah Gunung Slamet) sore kemarin, sehingga kembali berdampak," katanya menjelaskan.

Selain itu, kata dia, sejumlah sumber air juga mengalami penyumbatan akibat lumpur sehingga debit air mengecil dan menyebabkan pelayanan belum sepenuhnya normal, terutama di wilayah selatan Banyumas.

Bahkan, lanjut dia, tingkat kekeruhan air baku sempat mencapai 20 ribu Nephelometric Turbidity Unit (NTU), jauh di atas ambang normal sekitar 600 NTU.

Ia mengatakan dalam kondisi tertentu, Perumdam Tirta Satria terpaksa tetap mengolah air dengan tingkat kekeruhan hingga 3.000 NTU agar pelayanan tetap berjalan meskipun tidak maksimal.

"Kalau sudah di atas standar tentu butuh bahan lebih banyak dan itu pemborosan, tetapi mau tidak mau tetap kami upayakan agar pelanggan tetap mendapatkan air," katanya.

Sebagai langkah terakhir, kata dia, Perumdam Tirta Satria juga melakukan pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah-wilayah terdampak, meskipun distribusi tersebut belum dapat menjangkau seluruh pelanggan secara merata.

Ia mengatakan berdasarkan laporan terbaru, kondisi air di sejumlah titik kini sudah mulai kembali jernih.

Akan tetapi, lanjut dia, pemerataan tekanan air diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.

"Sekarang sudah mulai normal, beberapa titik sudah jernih. Untuk tekanan mungkin dua hari lagi baru bisa terasa lebih normal," katanya.

Terkait dengan hal itu, Wipi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas gangguan layanan tersebut dan berharap masyarakat dapat bersabar karena gangguan dipicu oleh faktor alam yang berada di luar kendali pengelola.

Salah seorang warga Puri Wiradadi 3, Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Woto mengatakan aliran air Perumdam Tirta Satria di perumahan itu diketahui mati sejak Minggu (25/1) dini hari.

"Info yang kami dapat, hal itu karena instalasi pengolahan air dari Sungai Serayu di Desa Pegalongan mengalami gangguan akibat banjir lumpur. Alhamdulillah dalam dua hari ini, warga kami mendapatkan bantuan air bersih dari Perumdam," kata Sekretaris RT 08 RW 04 Desa Wiradadi itu.

Baca juga: BPBD Purbalingga tangani banjir bandang di lereng Gunung Slamet

Baca juga: ESDM: Sudah tidak ada aktivitas pertambangan di lereng Gunung Slamet

Baca juga: Warga Sumbang Banyumas tolak aktivitas tambang di kaki Gunung Slamet

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |