Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memerintahkan PT PLN (Persero) membangun pembangkit listrik yang telah disepakati dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 untuk mendongkrak investasi.
“Nanti habis ini saya akan rapat dengan PLN. Kami akan mendorong percepatan untuk pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang sudah disetujui dalam RUPTL,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Langkah tersebut ditempuh oleh Bahlil, sebab realisasi investasi sektor ESDM pada 2025 mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2024.
Pada 2024, realisasi investasi sektor ESDM sebesar 32,3 miliar dolar AS, turun menjadi 31,7 miliar dolar AS pada 2025.
Baca juga: Menteri Bahlil catat lifting minyak 2025 lampaui target APBN
“Di mana koreksinya? Di listrik,” kata Bahlil.
Secara rinci, realisasi investasi di sektor mineral dan batu bara (minerba) sebesar 6,7 miliar dolar AS, sektor minyak dan gas bumi (migas) sebesar 18,0 miliar dolar AS, di sektor listrik sebesar 4,6 miliar dolar AS, dan di sektor energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 2,4 miliar dolar AS.
“Ini saya lihat memang ada terjadi butuh effort dan kerja keras agar bisa tercapai,” ucap Bahlil.
Pemerintah berencana untuk menambah pembangkit listrik dengan total kapasitas mencapai 69,5 GW yang terdiri atas pembangkit EBT dengan kapasitas 42,6 GW (61 persen dari total kapasitas); storage dengan kapasitas sebesar 10,3 GW (15 persen dari total kapasitas); serta pembangkit bertenaga fosil sebesar 16,6 GW (24 persen dari total kapasitas).
Baca juga: Bahlil kaji diskon listrik untuk daerah terdampak bencana Sumatera
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan untuk menjalankan RUPTL membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun dalam sepuluh tahun.
Realisasi RUPTL akan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, memperkuat ketahanan energi, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta mendorong pergeseran dari energi impor menuju energi domestik.
Pengembangan sistem tersebut pun, kata Darmawan, memerlukan pembangunan 48.000 kilometer jaringan transmisi dan 109.000 MegaVolt-Ampere (MVA) gardu induk.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































