Asal-usul tiup terompet jadi tradisi perayaan tahun baru

1 month ago 26

Jakarta (ANTARA) - Menjelang malam pergantian tahun 2025, rasanya kurang lengkap tanpa adanya suara terompet yang riuh. Pada momen ini, meniup terompet sudah menjadi tradisi yang lekat dengan perayaan tahun baru di berbagai tempat.

Namun, di balik kemeriahannya, tradisi ini ternyata bukan sekadar kebiasaan yang tidak ada artinya. Meniup terompet saat tahun baru memiliki akar sejarah yang panjang dan berkaitan dengan berbagai budaya hingga agama.

Sejak zaman kuno, terompet sudah dikenal sebagai alat tiup yang memiliki peran penting. Pada masa itu, terompet biasanya terbuat dari tanduk hewan atau cangkang keong yang digunakan dalam ritual keagamaan, peperangan, hingga upacara adat sebagai simbol panggilan dan penanda momen penting.

Diketahui, penggunaan terompet dalam perayaan tahun baru sudah ada sejak era Romawi Kuno, sekitar abad ke-4 hingga ke-5 SM.

Secara filosofis, suara terompet yang keras dipercaya dapat mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan. Kepercayaan seperti ini juga dapat ditemukan dalam perayaan Imlek di sejumlah negara Asia.

Selain itu, tradisi meniup terompet juga berkaitan dengan perayaan tahun baru umat Yahudi, yaitu Rosh Hashanah.

Dalam perayaan ini, umat Yahudi meniup Shofar, alat tiup dari tanduk domba jantan. Dalam kitab Taurat, momen tersebut dikenal sebagai Yom Teru’ah atau hari meniup Shofar, yang berfungsi sebagai panggilan untuk beribadah, bertobat, dan memohon pengampunan sebelum hari pendamaian (Yom Kippur).

Seiring waktu, penggunaan alat tiup sebagai penanda waktu dan simbol kegembiraan pun semakin meluas.

Pada Abad Pertengahan, banyak negara di Eropa menggunakan terompet untuk mengumumkan dimulainya tahun baru secara resmi.

Tradisi ini kemudian dibawa oleh imigran Jerman ke Amerika Serikat pada abad ke-18 dan terus berkembang hingga dikenal luas di seluruh dunia.

Kini suara terompet menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tahun baru, termasuk di Indonesia.

Jika awalnya terompet terbuat dari tanduk hewan atau cangkang keong, lalu berkembang menggunakan bahan logam seperti perunggu atau kuningan, sekarang terompet tahun baru lebih sering dibuat dari kertas dan plastik dengan beragam hiasan, bentuk dan bunyi.

Meskipun fungsi religiusnya telah bergeser menjadi simbol hiburan dan kemeriahan, maknanya tetap saja sama. Suara terompet menjadi penanda berakhirnya masa lalu atau dimulainya babak baru yang penuh harapan, semangat, dan kebahagiaan.

Selain menciptakan suasana meriah, tradisi ini juga berdampak pada perkembangan ekonomi. Tingginya minat terompet di setiap akhir tahun, memberikan keuntungan bagi para perajin dan pedagang terompet musiman.

Baca juga: Hidangan yang dianggap membawa keberuntungan saat tahun baru

Baca juga: Mengenal tradisi malam Satu Suro di Keraton Yogyakarta dan Surakarta

Baca juga: Makna pawai obor malam 1 Muharram: Tradisi sambut tahun baru Islam

Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |