Anggota DPR: Pidato Prabowo di WEF tegaskan arah bangsa Indonesia

1 week ago 11
"Sebagian kritik yang muncul memang bernada keras dan personal. Dalam spektrum ini, pidato lebih sering dibaca melalui sosok yang berbicara ketimbang substansi yang ditawarkan,"

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mengatakan bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto di atas panggung Annual Meeting Davos, World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss, menegaskan arah bangsa Indonesia, bukan sekadar penampilan simbolik di panggung global.

Di tengah dunia yang kian gaduh oleh konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan krisis kepercayaan, dia menilai pilihan Indonesia untuk berbicara tentang stabilitas, perdamaian, dan disiplin ekonomi mencerminkan sikap rasional yang semakin langka.

"Sebagian kritik yang muncul memang bernada keras dan personal. Dalam spektrum ini, pidato lebih sering dibaca melalui sosok yang berbicara ketimbang substansi yang ditawarkan," kata Azis di Jakarta, Senin.

Dia menilai bahwa jika posisi berseberangan diambil sejak awal hingga ruang dialog menyempit, maka hal itu tak sepenuhnya mencerminkan suara publik secara utuh. Di balik itu, menurut dia, terdapat sikap publik lain yang jauh lebih menentukan, yakni kewaspadaan yang disertai harapan.

"Mereka mendengar, mencatat, lalu menunggu. Bukan menunggu pidato lanjutan, melainkan menunggu apakah arah yang dinyatakan benar-benar diterjemahkan menjadi kerja yang terasa. Sikap ini bukan sinisme, melainkan bentuk kedewasaan politik," kata dia.

Selain itu, menurut dia, banyak pernyataan Prabowo yang semula disangsikan justru kini dapat dibuktikan. Misalnya, kata dia, penertiban kawasan hutan yang selama bertahun-tahun dibiarkan, pencabutan izin pemanfaatan hutan bagi pihak yang lalai, hingga pencabutan bahkan perampasan tambang yang melanggar hukum tanpa pandang bulu.

"Termasuk langkah penegakan hukum terhadap koruptor yang sebelumnya seolah kebal. Sebelum berbicara tegas di forum internasional, bukti-bukti itu telah lebih dulu hadir," kata dia.

Karena itu, dia menilai bahwa pidato itu seharusnya dipahami sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja, bukan sekadar awalnya. Legitimasi hari ini, menurut dia, tumbuh dari kesinambungan antara kata dan tindakan.

"Ketika kerja sama internasional berujung pada investasi yang benar-benar berjalan, ketika lapangan kerja tercipta, ketika ketahanan pangan dan energi diperkuat, maka arah yang disampaikan di Davos memperoleh maknanya yang nyata," katanya.

Untuk itu, menurut dia, pidato Prabowo di Davos menandai pilihan strategis Indonesia yang memilih stabilitas daripada kegaduhan, kerja nyata daripada retorika, dan pembuktian daripada pembelaan diri.

Dia mengatakan bahwa kritik akan selalu ada, dan hal tersebut wajar saja jika terjadi. Namun ketika arah telah ditegaskan dan jejak kerja telah mendahuluinya, menurut dia, yang menentukan bukan lagi debat tentang niat, melainkan konsistensi dalam melangkah.

"Di sanalah pidato itu menemukan makna penuhnya, bukan sebagai momen, tetapi sebagai kompas," katanya.

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |