AICIS+ 2025 upaya jawab krisis lingkungan dan teknologi

3 months ago 27

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama bersama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) membuka gelaran Annual International Conference on Islam, Science and Society (AICIS+) 2025, di UIII Depok, Jawa Barat, Rabu, yang akan membahas berbagai upaya dalam mengatasi krisis lingkungan dan teknologi.

Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menegaskan dunia saat ini dihadapkan pada dua tantangan besar yang menentukan yakni krisis iklim dan percepatan transformasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).

“Kedua hal ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi pada akarnya adalah krisis spiritual dan intelektual. Tradisi Islam bukanlah artefak yang usang, melainkan sumber daya yang hidup dan dinamis yang harus kita hadirkan untuk menjawab tantangan kontemporer ini,” ujar Sekjen mengutip pernyataan Menag Nasaruddin Umar di Depok, Rabu.

Konferensi internasional yang berlangsung dari 29 hingga 31 Oktober 2025 ini mengusung tema besar "Islam, Ekoteologi, dan Transformasi Teknologi: Inovasi Multidisiplin untuk Masa Depan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan”.

Kamaruddin menjelaskan konferensi ini dirancang sebagai wujud nyata dari keyakinan bahwa iman dan akal adalah dua jalur yang saling melengkapi menuju kebenaran.

Untuk itu, Kemenag berkomitmen membangun infrastruktur intelektual melalui tiga pilar strategis penguatan ekosistem riset di perguruan tinggi Islam, promosi metodologi interdisipliner, dan fasilitasi percakapan ilmiah global.

Baca juga: Pecah rekor, Kemenag: AICIS+ 2025 terima 2.434 proposal dari 31 negara

AICIS+ 2025 akan mendalami delapan sub-tema strategis yang merefleksikan upaya rekonstruksi pemikiran Islam, antara lain Ekoteologi, Etika Teknologi, Hukum Islam dan Eco-Feminisme, Ekonomi Berkelanjutan, Dekolonisasi Studi Islam, Perdamaian, Kesehatan Masyarakat, serta Inovasi Industri berbasis Nilai Ekonomi Islam.

“Gerakan ini menyerukan setiap institusi keagamaan, masjid, madrasah, KUA, pesantren, dan PTKI, untuk menjadi ruang hidup yang hijau, bukan sekadar struktur batu. Ini adalah rekonstruksi teologi ekologis, memosisikan umat Islam sebagai khalifah fil ardhi yang sadar lingkungan,” kata Kamaruddin Amin.

Di samping itu, diskusi akan membahas peran strategis zakat dan wakaf sebagai pilar keuangan sosial Islam untuk mewujudkan kesejahteraan berkelanjutan dan keadilan sosial, yang selaras dengan sub-tema konferensi.

“Potensi wakaf uang nasional mencapai triliunan rupiah. Dengan kontribusi Rp10.000 dari setiap Muslim sebagai amal jariyah, kita dapat membiayai UMKM, pendidikan, dan infrastruktur hijau tanpa beban riba,” katanya.

AICIS+ 2025 diharapkan tidak hanya menjadi diskusi akademis, tetapi juga kontribusi nyata bagi dialog peradaban dan pembaruan intelektual.

“Tujuannya adalah merumuskan masa depan yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga berkeadilan, berkelanjutan, dan manusiawi, yang merefleksikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Baca juga: AICIS+ 2025 hadirkan 12 pemikir dunia kupas ekoteologi dan teknologi
Baca juga: AICIS+ 2025 didorong jadi ruang diplomasi intelektual Indonesia

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |