Grobogan (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat sebanyak 688 dari 803 orang yang tercatat mengalami gejala keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dinyatakan sembuh setelah diobati, sedangkan yang masih menjalani perawatan ada 54 orang.
"Dari 115 pasien yang sempat menjalani rawat inap, sebanyak 61 orang telah sembuh dan diperbolehkan pulang. Sehingga, saat ini masih ada 54 pasien yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes)," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan Djatmiko di Blora, Selasa.
Baca juga: Pemprov Jateng tangani cepat dugaan keracunan MBG di Grobogan
Ia mengungkapkan sebanyak 61 pasien yang telah sembuh dan dipulangkan berasal dari beberapa Fasyankes, dengan rincian Puskesmas Karangrayung I sebanyak 9 orang, Puskesmas Gubug I 3 orang, RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi 19 orang, serta RSUD Ki Ageng Getas Pendowo 30 orang.
Sementara itu, 54 pasien lainnya masih menjalani perawatan dengan rincian 19 orang dirawat di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, 10 orang di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi, tiga orang di Puskesmas Karangrayung I.
Kemudian, ada tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, dirawat di Puskesmas Gubug I, RS Permata Bunda, dan Puskesmas Toroh I, dan Puskesmas Grobogan masing-masing ada satu pasien, serta enam orang di Puskesmas Klambu, dan lima orang di Puskesmas Godong I.
Peristiwa dugaan keracunan tersebut berawal pada Jumat (9/1), ketika ratusan warga, mayoritas siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren, mengalami gejala mual dan muntah setelah mengonsumsi MBG yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.
Korban tersebar di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMK yang berlokasi di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.
Baca juga: 113 korban dugaan keracunan MBG di Grobogan dirujuk ke fasyankes
Baca juga: Dinkes: 658 orang di Kabupaten Grobogan diduga keracunan MBG
Djatmiko menegaskan data korban bersifat dinamis dan terus diperbarui. Sedangkan gejala paling banyak dialami korban berupa mual dan muntah, yang diduga muncul setelah mengonsumsi MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek.
Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Grobogan juga telah melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta pengambilan sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Semarang pada Senin (12/1).
"Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru akan keluar dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari mendatang," ujarnya.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































