Batang (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan bahwa pentingnya keterpaduan langkah dalam menerapkan hasil riset untuk kesejahteraan di kawasan pesisir.
"Pengembangan teknologi seperti padi varietas Biosalin dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar (Petasol) oleh BRIN bersama PGN harus benar-benar menyasar komunitas yang tepat agar memberi manfaat nyata dan berkelanjutan," katanya di Batang, Jawa Tengah, Jumat, saat rangka panen padi Biosalin dan ujicoba petasol untuk alat mesin pertanian.
Menurut dia, pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar (Petasol) menjadi solusi konkret untuk mengurangi sampah plastik laut sekaligus menjawab kebutuhan BBM non-subsidi untuk operasional alat berat seperti mesin panen padi.
Terkait panen padi Biosalin di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang itu Hanif meminta hasil panen padi biosalin di Kabupaten Batang tidak langsung dibawa ke penggilingan tetapi dikembangkan sebagai sumber benih padi tahan salinitas.
Menurut Hanif, pengembangan benih menjadi salah satu hal yang perlu segera diperhatikan karena varietas padi biosalin agritan 1 dan biosalin agritan 2 masih tergolong baru dan jumlah benihnya terbatas.
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan panen padi Biosalin ini selama tiga bulan mampu menghasilkan panen 6-7 ton per hektare.
Penanaman padi Biosalin seluas 25 hektare ini dilakukan oleh pemerintah daerah di kawasan pesisir yang sebelumnya mangkrak akibat luapan air asin.
"Kami optimistis target perluasan hingga 400 hektare dapat terealisasi ke depan. Sektor pertanian dan perikanan menyumbang hampir 20 persen terhadap perekonomian daerah," katanya.
Baca juga: Pemkot Pekalongan kembangkan bibit padi Biosalin di lahan bekas rob
Baca juga: PGN-BRIN tingkatkan ekonomi lahan pesisir melalui Minapadi Salin
Terkait Petasol, anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni Wiyanto mengatakan bahwa riset-riset yang dilakukan tidak boleh hanya berhenti di laboratorium tetapi harus diimbangi rasa empati tinggi agar dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Ia menjelaskan, sampah plastik bernilai rendah telah mampu dimanfaatkan sebagai bahan baku bahan bakar minyak (BBM) terbarukan untuk mendukung kegiatan pertanian dalam panen raya padi Biosalin di Kabupaten Batang.
Ia mengungkapkan, bahan bakar tersebut berupa Petasol yang dihasilkan melalui proses pirolisis menggunakan mesin FASPOL Gen 5.0 hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penggunaan Petasol menjadi bagian dari rangkaian program Green Manufacturing yang dikembangkan melalui kolaborasi BRIN, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan Pemkab Batang.
Dalam kegiatan tersebut, teknologi bahan bakar dari sampah plastik diperkenalkan untuk mendukung pengoperasian alat dan mesin pertanian.
Baca juga: BRIN dorong teknologi pirolisis sebagai solusi pengelolaan sampah
Baca juga: Pemkab Bantul-BRIN hadirkan mesin pengolah sampah plastik jadi solar
Baca juga: BRIN kembangkan Petasol, ubah sampah menjadi bahan bakar alternatif
Pewarta: Kutnadi
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































