Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik berpendapat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu terus memantau realisasi investasi fisik dan kemudahan perizinan berusaha sebagai upaya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif.
"Mengapa penting? Investasi yang mendorong peningkatan infrastruktur untuk menambah kapasitas ekonomi," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Kadarmanto menjelaskan realisasi investasi yang perlu dipantau mencakup konstruksi dan barang modal atau nonkonstruksi.
Selain investasi, Pemprov DKI juga perlu terus memantau indikator pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) dan kontribusi masing-masing lapangan usaha sebab merupakan ukuran utama aktivitas ekonomi.
Indikator lainnya yang juga perlu dipantau yakni konsumsi rumah tangga, indeks harga konsumsi (IHK) dan inflasi, ketenagakerjaan, perdagangan, pariwisata dan mobilitas, dan penyerapan belanja pemerintah.
Kadarmanto mengatakan indikator IHK dan inflasi mempengaruhi daya beli dan usaha; indikator ketenagakerjaan menggambarkan penciptaan pekerjaan dan daya beli, sementara indikator perdagangan penting dipantau karena mencerminkan aktivitas ekonomi internal atau eksternal dan kebutuhan produksi.
Adapun pariwisata dan mobilitas penting juga untuk dipantau sebab menggerakkan jasa, perdagangan, hotel, restoran dan transportasi, sedangkan penyerapan belanja pemerintah penting dipantau karena menggambarkan konsumsi pemerintah dalam menggerakkan ekonomi.
"Secara ringkas, ada tiga kelompok indikator untuk memotret kondisi ekonomi dan memberikan early warning berbasis perkembangan data yakni konsumsi dan daya beli, inflasi dan harga pangan, dan ketenagakerjaan dan investasi," kata Kadarmanto,
Mengenai potret ekonomi Jakarta, data BPS DKI mencatat pertumbuhan ekonomi Jakarta pada Triwulan II-2026 masih positif, yakni tumbuh 5,52 persen secara tahunan dan meningkat 1,52 persen secara triwulan.
Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan-minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,52 persen secara tahunan.
Dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 14,70 persen secara tahunan.
Kadarmanto menyampaikan struktur ekonomi masih didominasi perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi 18,24 persen, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi sebesar 63,24 persen.
Baca juga: Jakarta alami inflasi 0,15 persen pada Agustus 2026
Baca juga: Nilai ekspor Jakarta capai 9,87 miliar dolar AS pada Januari-Juli 2026
Baca juga: Tingkat hunian kamar hotel di Jakarta naik pada Juli 2026
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































