Universitas YARSI kembangkan inovasi AI untuk bantu dokter di ICU

4 hours ago 1
Dokter tidak perlu lagi lama berdebat hingga tiga jam yang akhirnya bisa memengaruhi tingkat keselamatan pasien..

Jakarta (ANTARA) - Universitas YARSI mengembangkan program inovasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu kerja dokter di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU).

Rektor Universitas YARSI Prof. Fasli Jalal mengatakan berbagai program tersebut dikembangkan seiring dengan penerimaan hibah dari Korea, Jepang, maupun dari dalam negeri sendiri.

"Dalam artificial intelligence ini kami serius sekali," kata Prof. Fasli saat ditemui usai acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana, di Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan program tersebut merupakan salah satu proyek mahasiswa kedokteran, di mana nantinya kecerdasan buatan akan mengolah data darah, pernapasan, dan sebagainya, dari seorang pasien. Setelah itu, AI akan memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan obat yang bisa diberikan kepada pasien.

Meski pada akhirnya tetap dokter yang memutuskan obat yang akan diberikan, Fasli menuturkan mekanisme tersebut akan mempercepat penanganan pasien.

"Dokter tidak perlu lagi lama berdebat hingga tiga jam yang akhirnya bisa memengaruhi tingkat keselamatan pasien. Jadi, kami berupaya menggunakan AI ini agar mereka yang mendapatkan masalah kesehatan terbantu dalam penanganan pengobatan," tutur dia.

Selain memberikan rekomendasi obat, dirinya menyampaikan AI di universitasnya juga digunakan untuk memantapkan diagnosa, salah satunya menemukan kelainan genital bayi yang baru lahir.

Menurut dia, salah satu kecerdasan buatan tersebut sangat dibutuhkan karena di Indonesia, ahli urologi yang bisa mendiagnosa kelainan itu sangat terbatas, di mana saat ini disebut belum sampai berjumlah 700 di seluruh Tanah Air.

Dari jumlah tersebut, sambung dia, dua per tiganya berada di Jawa. Padahal, satu dari 300 anak di Indonesia lahir dengan gangguan tersebut.

"Dengan menggunakan artificial intelligence dan pengetahuan kedokteran, kami bisa membantu dari yang enggak mungkin mereka dapat fasilitas itu akhirnya bisa sehingga anak-anak yang mengidap kelainan tersebut tidak perlu dia teraniaya," ungkap Fasli.

Adapun pada acara wisuda, terdapat 478 lulusan Universitas YARSI. Dalam kesempatan tersebut, ada satu lulusan pascasarjana yang berusia 70 tahun.

Baca juga: Kemkomdigi siap kolaborasi hadirkan AI untuk layanan BPJS Kesehatan

Baca juga: Wamenkes: AI geser paradigma kesehatan, dari kuratif jadi preventif

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |