Tokoh advokasi pendidikan Afganistan raih Zayed Award for Fraternity

2 weeks ago 6
Upaya tanpa lelah dan kepemimpinannya dalam melindungi hak pendidikan anak-anak perempuan Afghanistan serta memajukan pemberdayaan perempuan, meskipun menghadapi tantangan yang sangat besar

Jakarta (ANTARA) - Tokoh advokasi pendidikan anak dan perempuan Afghanistan, Zarqa Yaftali, ditetapkan sebagai penerima penghargaan Zayed Award for Human Fraternity (Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia) pada tahun ini.

Zarqa Yaftali ditetapkan sebagai penerima penghargaan atas kiprahnya dalam menyediakan sumber daya pendidikan, dukungan psikososial, serta layanan berbasis komunitas kepada lebih dari 100.000 orang di Afghanistan dan sekitarnya.

“Upaya tanpa lelah dan kepemimpinannya dalam melindungi hak pendidikan anak-anak perempuan Afghanistan serta memajukan pemberdayaan perempuan, meskipun menghadapi tantangan yang sangat besar,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Para penerima penghargaan tahun 2026 dipilih oleh tim dewan juri global independen yang terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka dan para pakar di bidang dialog dan koeksistensi.

Baca juga: Menag: Sudah saatnya RI beri penghargaan bagi tokoh perdamaian dunia

Dewan juri itu meliputi mantan Presiden Dewan Eropa dan mantan Perdana Menteri (PM) Belgia Charles Michel, mantan Ketua Komisi Uni Afrika dan mantan PM Chad Moussa Faki Mahamat, Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell,

Kemudian Kepala Administrasi Presiden Republik Uzbekistan Saida Mirziyoyeva, Prefek Dikasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan Takhta Suci Kardinal José Tolentino de Mendonça, serta Sekretaris Jenderal (Sekjen) Penghargaan juri Zayed Award for Human Fraternity Konselor Mohamed Abdelsalam.

Sementara itu Zarqa Yaftali menyampaikan sukacita dan keharuan yang mendalam serta berterima kasih kepada dewan juri Zayed Award for Human Fraternity. Ia menyebut penghargaan itu merupakan pesan yang kuat dan bermakna bagi semua perempuan di Afghanistan.

Selain Zarqa, Zayed Award for Human Fraternity juga menetapkan Perjanjian Perdamaian Bersejarah Antara Republik Azerbaijan dan Republik Armenia sebagai penerima penghargaan.

Baca juga: Dewan juri Zayed Prize for Human Fraternity 2025 diumumkan

Perjanjian perdamaian itu ditetapkan sebagai penerima penghargaan atas sebuah proses perdamaian, dialog, normalisasi hubungan, dan penyelesaian konflik oleh kedua negara tersebut. Perjanjian itu menegaskan rekonsiliasi bukanlah satu peristiwa tunggal, melainkan sebuah proses berkelanjutan.

Konselor Mohamed Abdelsalam yang juga Sekjen Zayed Award for Human Fraternity menyatakan dewan juri memilih perjanjian perdamaian bersejarah antara Azerbaijan dan Armenia, yang mencerminkan misi dan tujuan Zayed Award dalam mempromosikan serta menumbuhkan budaya dialog dan koeksistensi.

“Perjanjian ini menandai tonggak penting dalam memajukan perdamaian global dan merupakan pencapaian diplomatik besar, membuka lembaran baru setelah ketegangan dan konflik selama hampir empat dekade di wilayah Kaukasus,” katanya.

Baca juga: PM Barbados hingga anak berusia 15 tahun raih penghargaan Zayed Award

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |