Jakarta (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) menyusun model kolaborasi kelembagaan ekonomi kawasan sebagai dasar penguatan tata kelola ekonomi masyarakat transmigrasi.
Pola pengelolaan produksi dan pemasaran yang masih berjalan sendiri-sendiri menjadi tantangan utama pengembangan ekonomi di Kawasan Transmigrasi Asinua-Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Kondisi tersebut mendorong Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) untuk menyusun model kolaborasi kelembagaan ekonomi kawasan sebagai dasar penguatan tata kelola ekonomi masyarakat transmigrasi.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI Dr. Rifelly Dewi Astuti di Depok, Selasa menjelaskan bahwa model tersebut disusun untuk menjawab persoalan fragmentasi pengelolaan ekonomi di tingkat kawasan.
Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot UI rekomendasi komoditas di Belantikan Raya
“Kelembagaan ekonomi sebenarnya sudah ada, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri. Model kolaborasi ini dirancang agar seluruh aktor ekonomi di kawasan dapat bergerak dalam satu sistem yang lebih terkoordinasi,” kata Rifelly.
Tim Ekspedisi Patriot UI yang merupakan kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), dan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) merumuskan model tersebut melalui riset lapangan, wawancara, serta diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama masyarakat dan pemangku kepentingan daerah.
Selain menyusun model kelembagaan, tim juga mencatat sejumlah tantangan utama di lapangan, antara lain keterbatasan akses jalan produksi yang menghambat distribusi hasil, minimnya fasilitas pascapanen, serta keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan usaha berbasis kawasan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Indonesia menegaskan kontribusi dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi melalui riset terapan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat dan potensi wilayah.
Baca juga: Hasil kajian patriot landasi pembangunan transmigrasi Palolo Sigi
Hasil kajian lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat masih dilakukan secara individual, mulai dari pengadaan sarana produksi hingga pemasaran hasil.
Kondisi ini berdampak pada tingginya biaya produksi, panjangnya rantai pasok, serta lemahnya posisi tawar petani di tingkat pasar.
Tim mencatat sejumlah komoditas utama yang dikembangkan masyarakat di kawasan tersebut, antara lain padi, jeruk, lada, nilam, dan ternak sapi. Meski memiliki potensi ekonomi, komoditas tersebut belum dikelola dalam satu sistem kawasan yang terintegrasi, sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat masih terbatas.
Di tingkat desa, kelembagaan ekonomi seperti kelompok tani, koperasi, dan badan usaha milik desa (BUMDes) telah terbentuk. Namun, peran kelembagaan tersebut umumnya masih terbatas pada fungsi administratif dan belum berfungsi optimal sebagai penggerak produksi, pengolahan, maupun pemasaran secara kolektif.
Baca juga: Tim Ekpedisi Patriot Kementrans bantu buat gudang Bulog di Morotai
Berdasarkan temuan tersebut, model kolaborasi kelembagaan ekonomi kawasan dirancang dengan menempatkan koperasi kawasan sebagai simpul penghubung antara kelompok tani, BUMDes, dan pelaku usaha.
Melalui model ini, koperasi diharapkan berperan dalam agregasi produksi, pengelolaan pascapanen, serta penguatan akses pasar dan kemitraan usaha. Penyusunan model dilakukan melalui riset lapangan yang berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025.
Kegiatan meliputi studi pendahuluan, pengumpulan data sekunder, survei lapangan, serta FGD untuk memvalidasi temuan dan rancangan model bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Pendekatan multidisipliner menjadi salah satu kekuatan program ini, dengan kajian ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat yang saling melengkapi dalam perumusan rekomendasi pengembangan kawasan transmigrasi.
Baca juga: Tim Patriot UI dan pemda kaji pengembangan transmigrasi di Sigi
Pada tahap akhir, tim memaparkan hasil kajian dan rancangan model dalam forum FGD bersama Pemerintah Kabupaten Konawe, perangkat desa, serta perwakilan masyarakat sebagai bagian dari proses diseminasi dan penjajakan implementasi.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Konawe, Adrianto, menilai penguatan kelembagaan ekonomi berbasis kawasan menjadi kebutuhan mendesak di wilayah transmigrasi.
“Potensi ekonomi di kawasan transmigrasi cukup besar, tetapi selama ini belum terkelola dalam satu sistem yang terintegrasi. Model yang disusun Tim UI ini dapat menjadi referensi awal dalam perencanaan pengembangan kawasan Asinua-Routa,” ujar Adrianto.
Pewarta: Feru Lantara
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































