Tiga inovasi digital Indonesia raih pengakuan di WSIS Prizes 2026

3 months ago 33

Jakarta (ANTARA) - Tiga inovasi digital Indonesia berhasil meraih pengakuan dalam ajang The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 yang diselenggarakan oleh badan telekomunikasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau International Telecomunication Union (ITU).

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi digital Indonesia semakin mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.

"Saya melihat yang jadi nominee dan pemenang di WSIS tahun ini bobotnya makin kuat sejak tiga tahun terakhir,” ujar Nezar dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Dalam ajang WSIS Prizes 2026, Indonesia berhasil menempatkan 3 inisiatif terbaik di antara 90 WSIS Champions 2026 dari seluruh dunia. Ketiga inovasi ini terkait dengan inovasi perluasan akses pendidikan, peningkatan keamanan siber dan membantu masyarakat melawan hoaks.

Baca juga: Kemkomdigi: AITF wadah lahirkan inovasi AI untuk sekolah rakyat-bansos

Secara lebih rinci, ketiga inisiatif itu meliputi Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, serta Rumah Pendidikan dan Anugerah Bug Bounty dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).

Nezar menilai berbagai inovasi yang dikembangkan Kemdikdasmen maupun Pemprov DKI Jakarta memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta mampu mendorong transformasi digital di sektor publik.

Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan responsif melalui platform digital.

“Inisiatifnya sangat baik, sangat useful, juga impactful untuk mendorong transformasi digital dalam layanan publik,” tuturnya.

Baca juga: Wagub Emil apresiasi inovasi digital Bank Jatim lewat JConnect terbaru

Salah satu inovasi yang menarik sorotan adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi.

Wamen Nezar menegaskan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.

“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang autentik,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai kehadiran platform verifikasi informasi seperti Jalahoaks menjadi instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu.

Baca juga: Mahasiswa UI ciptakan inovasi UMKM-GO untuk hadirkan solusi digital

Selain itu, Wamen Nezar juga mengapresiasi program Anugerah Bug Bounty yang dinilai berkontribusi memperkuat budaya keamanan siber nasional.

Program tersebut dinilai mampu melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi kerentanan sistem sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan digital secara positif dan produktif.

“Kita bisa mendapat input soal kerentanan sistem yang kita bangun sekaligus mendidik generasi muda menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang positif,” katanya.

Sementara platform Rumah Pendidikan menjadi bukti upaya pemerintah membangun ekosistem digital di bidang pendidikan yang terintegrasi guna memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Baca juga: Airlangga sebut ekonomi digital bisa diperkuat lewat inovasi teknologi

Wamen Nezar berharap keberhasilan tiga inovasi Indonesia menembus ajang WSIS Prizes 2026 menjadi penyemangat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus menghadirkan inovasi digital yang berdampak luas bagi masyarakat.

Kita bisa buktikan transformasi digital, adopsi teknologi yang advanced, sudah dilakukan di berbagai sektor di Indonesia,” tandasnya.

Ia berharap para pemenang atau pihak yang mewakili bisa hadir langsung dalam acara penyerahan penghargaan WSIS Prizes 2026 di Jenewa, Swiss pada minggu pertama Juli 2026.

Dalam ajang WSIS Prizes 2026, terdapat 1.596 inovasi digital dari 122 negara yang berpartisipasi.

Sebanyak 2,2 juta orang telah memberikan suara untuk memilih inovasi digital yang terbaik dari seluruh peserta.

Hasil voting ini diperiksa kembali oleh para pakar dari WSIS sehingga terpilih 90 champion dengan 3 champion berasal dari Indonesia.

Baca juga: Astra International dukung inovasi pembelajaran digital di Kupang

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |