Jakarta (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengajak Kepala Sekolah Rakyat berpartisipasi aktif dalam membangun mekanisme seleksi siswa yang transparan dan akuntabel menjelang pembukaan tahun ajaran baru 2026.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam Rapat Koordinasi Menteri Sosial dengan Kepala Sekolah Rakyat yang dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan dihadiri oleh seluruh Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia.
“Saya ingin proses seleksi Sekolah Rakyat itu bisa diikuti oleh seluruh masyarakat luas. Jadi saya ingin mengundang elemen-elemen penting dalam rangka proses seleksi Sekolah Rakyat ini, untuk kita minta bertemu langsung dengan Presiden nanti, didampingi para Kepala Sekolah, didampingi juga mungkin Dinsos. Kita ingin undang secara bersama-sama biar masyarakat tahu bahwa seleksi ini terbuka, tidak ditutup-tutupi dan bisa diikuti oleh semua pihak,” kata Mensos Saifullah di Kantor Kemensos, Jakarta, Senin.
Mensos menekankan proses seleksi yang transparan dan akuntabel sangat penting agar penyelenggaraan Sekolah Rakyat sesuai harapan Presiden Prabowo untuk memutus transmisi kemiskinan dan tepat sasaran kepada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sekolah Rakyat telah berjalan selama satu semester, kurang dari lima bulan lagi Sekolah Rakyat akan membuka tahun ajaran baru.
Pihaknya memperkirakan alokasi jumlah siswa pada 2026 lebih besar dari 2025, yakni 30 ribu lebih calon siswa Sekolah Rakyat yang akan diseleksi.
Program Sekolah Rakyat sejatinya tidak membuka seleksi akademik maupun nonakademik.
Para calon siswa yang berhak masuk adalah anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang sudah terdata di DTSEN.
Selanjutnya, pendamping sosial bersama unsur BPS dan dinas sosial melakukan ground check untuk memastikan yang bersangkutan masuk kriteria dan bersedia masuk Sekolah Rakyat.
“Jadi masih banyak tantangan di depan kita bapak dan ibu sekalian. Saya berharap kita bisa bersinergi, saling memperkuat agar seleksi tahun ini benar-benar menyasar mereka yang menjadi target dari Sekolah Rakyat,” kata Mensos.
Baca juga: Tak buka pendaftaran, Mensos: Seleksi Sekolah Rakyat berbasis data BPS
Lebih lanjut, ia berharap kepala sekolah maupun guru bisa ikut memberikan usulan dan saran dalam memperkuat proses seleksi siswa yang tepat sasaran dan jangkauannya luas.
“Jangan sampai kita kecolongan, ada orang-orang yang tidak memenuhi kriteria masuk Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Pada rapat ini, Mensos juga menyampaikan beberapa pesan kepada Kepala Sekolah Rakyat.
Pertama, yang harus menjadi perhatian kepala sekolah adalah menyiapkan kegiatan muatan bahasa asing untuk siswa.
“Ya mungkin dengan ekstrakurikuler atau hari-hari tertentu menggunakan bahasa-bahasa tertentu, (misalnya) Senin bisa Arab Day atau English Day,” katanya.
Kepala sekolah juga diharapkan menyelipkan muatan kedisiplinan untuk membangun kemandirian siswa.
Selain itu, lanjutnya, yang penting untuk menjadi perhatian Kepala Sekolah Rakyat adalah mekanisme penjaminan mutu.
“Tetapkan standar mutu, yang tentu di dalamnya mengikutkan standar nasional pendidikan, dan juga standar khas sekolah berasrama. Mulai dari standar pengasuhan, kegiatan keagamaan, dan pelatihan kedisiplinan. Ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” kata Mensos.
Di tempat yang sama, Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengingatkan kepada seluruh kepala sekolah tentang pentingnya sinergi dan kolaborasi yang kuat antara Sekolah Rakyat dan seluruh pihak terkait, supaya tujuan memutus transmisi kemiskinan dapat tercapai.
Baca juga: Mensos ingatkan masyarakat mampu tak manfaatkan Sekolah Rakyat
“Artinya dengan karakteristik Sekolah Rakyat seperti itu, ada kekhususan yang terus perlu kita persiapkan, agar anak-anak ini setelah lulus, terutama lulus (jenjang) SMA, betul-betul bisa menggraduasi keluarganya,” kata Wamensos.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































