Jakarta (ANTARA) - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) melalui SMF Research Institute menyampaikan pendanaan program perumahan rakyat, termasuk rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tetap terjaga dan berkelanjutan walaupun di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menyampaikan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan strategi blended financing melalui penerbitan surat utang dan Efek Beragun Aset (EBA-SP) serta memperluas basis investor domestik, guna menjaga keberlanjutan pendanaan FLPP.
“Pendekatan ini dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko yang kuat, serta tata kelola yang baik,” kata Ananta dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Sebagai special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, SMF memiliki mandat strategis untuk menyediakan pendanaan jangka panjang bagi perbankan penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) serta mendukung program FLPP Pemerintah.
Sejak 2018, SMF secara konsisten menyediakan porsi pendanaan sebesar 25 persen dalam skema KPR FLPP.
Dukungan tersebut memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap memiliki akses terhadap pembiayaan rumah dengan suku bunga tetap dan terjangkau, meskipun kondisi pasar keuangan mengalami penyesuaian.
SMF memandang, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 merupakan peluang untuk semakin memperkuat peran dalam mengembangkan sektor perumahan melalui mekanisme pasar pembiayaan sekunder.
Peran ini menjadi semakin strategis dalam memastikan kesinambungan pendanaan jangka panjang bagi industri KPR nasional.
Dari sisi makroekonomi, sepanjang 2025, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang solid dan tetap terjaga di level 5 persen.
Pada triwulan IV 2025, ekonomi tumbuh sebesar 5,39 persen (year on year/yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,04 persen (yoy).
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tahun 2025 mencapai 5,11 persen (yoy), meningkat dari capaian tahun 2024 sebesar 5,03 persen (yoy).
Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tumbuh positif. Kondisi tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi sektor properti dan pembiayaan perumahan memasuki tahun 2026.
Kondisi makroekonomi yang stabil tersebut juga tercermin pada kinerja KPR yang menunjukkan tren peningkatan pada tiga bulan terakhir tahun 2025.
Pertumbuhan KPR tercatat sebesar 6,9 persen (yoy) pada Oktober 2025 dan meningkat menjadi 7,05 persen (yoy) pada Desember 2025. Tren ini menunjukkan adanya perbaikan permintaan pembiayaan perumahan serta optimisme yang tetap terjaga di sektor properti.
Ke depan, SMF menyatakan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik guna memastikan dukungan pembiayaan perumahan tetap adaptif dan selaras dengan agenda Pemerintah dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah rakyat serta mengurangi backlog perumahan nasional.
SMF juga meyakini, stabilitas makroekonomi dan penguatan ekosistem pembiayaan perumahan akan menjadi kunci dalam menjaga momentum program perumahan rakyat, sehingga rumah layak dan terjangkau semakin luas dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.
Baca juga: SMF ubah pemukiman kumuh di Sangkrah jadi deretan rumah layak huni
Baca juga: SMF salurkan pendanaan ke lembaga pembiayaan Rp14,53 triliun hingga Q3
Baca juga: Wamenkeu: Sektor perumahan jadi motor penggerak ekonomi nasional
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































