Cirebon (ANTARA) - Sehelai kain berwarna kuning gading dibentangkan perlahan. Seratnya tampak rapuh, tapi motifnya tegas dan terlukis anggun, menyimpan jejak masa lalu karena usianya mendekati seabad.
Elang Raharyadi Widjaya Kusuma menatapnya lama, menelusuri lekuk garis seperti menapak tilas jejak pendahulunya, yang terpatri di setiap guratan kain itu.
“Ini salah satu koleksi ayah saya. Usianya hampir seabad. Motifnya corak mega mendung khas keraton,” ujar pria yang akrab disapa Yadi, saat berbincang dengan ANTARA, Jumat (24/10) siang.
Kain batik usang tersebut, beserta motif yang terukir di dalamnya, dianggap sebagai warisan keluarga. Ia mencoba melestarikan tapak leluhurnya dengan mendirikan Paguyuban Godong Djati.
Ia beranjak menuju teras depan setelah menunjukkan kain lawas itu. Kemudian, Yadi melanjutkan aktivitas membatik di atas selembar kain berwarna biru laut dengan begitu apik.
Baca juga: Bupati Cirebon: Batik Waleran resmi terdaftar dalam IG
Berkawan
Hawa hangat menyeruak dari tungku elektrik cilik dengan label PLN Peduli. Di dekatnya, terdapat seorang perempuan berkerudung biru sedang duduk bersimpuh.
Jemarinya begitu cekatan menggoreskan malam cair menggunakan canting bertenaga listrik, dengan bunyi yang berdengung halus.
Perajin saat mengerjakan sehelai kain batik di Sekretariat Paguyuban Godong Djati Cirebon, Jawa Barat, Jumat (24/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.Pemandangan ini menjadi hal lumrah di Paguyuban Godong Djati. Para anggotanya masih aktif memproduksi batik tulis secara konsisten.
Sekretariat paguyuban ini terletak persis di kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon. Bangunannya tak besar, namun sarat cerita.
Melanjutkan obrolan dengan ANTARA, Yadi bercerita paguyuban lahir dari kumpulan pelaku usaha yang awalnya memiliki latar belakang beragam seperti pelaku kuliner hingga kerajinan tangan.
Mereka lalu berkumpul, menjalin pertemanan dan sepakat untuk fokus mengembangkan batik sebagai wastra asli dari Kota Wali.
Nama Godong Djati dipilih karena terinspirasi dari lingkungan sekitar. Di kediaman mereka, tumbuh banyak pohon jati, yang kemudian menjadi simbol filosofis.
“Yakni kekuatan dan keteguhan yang tak mudah lapuk dimakan waktu, seperti kayu jati,” tuturnya.
Mayoritas anggota merupakan adalah pengurus yang saban hari menjaga agar aktivitas komunitas ini tetap bergerak. Sebagian lainnya perajin aktif yang menorehkan malam dengan ketelatenan. Jumlah mereka tak banyak, sekitar 15-20 orang.
Semua berasal dari kampung sekitar, sehingga kegiatan paguyuban ini menjadi tempat pemberdayaan.
Baca juga: Museum Tekstil Jakarta pamerkan 100 helai kain Batik Merawit Cirebon
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































