SDN 1 Tualang Cut fokuskan belajar ke trauma healing pascabanjir

1 week ago 13

Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Sekolah Dasar Negeri 1 Tualang Cut, Kabupaten Aceh Tamiang, memfokuskan pembelajaran pada trauma healing pascabanjir, sambil tetap menjalankan proses belajar mengajar sederhana di lantai sekolah selama masa pemulihan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 1 Tualang Cut, Eva Yanti ditemui ANTARA di sekolah tersebut di Aceh Tamiang, Senin mengatakan sekolah mulai kembali beroperasi sejak 5 Januari 2026, meski kondisi sarana prasarana belum sepenuhnya pulih pascabencana.

Ia menjelaskan, proses pembelajaran saat ini lebih difokuskan pada trauma healing bagi siswa, dengan mengajak anak-anak menceritakan kembali pengalaman banjir sembari mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

“Pembelajaran tetap kami selipkan, namun tidak penuh seperti biasa, agar anak-anak bisa perlahan pulih secara psikologis,” kata Eva.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 1 Tualang Cut, Eva Yanti menjawab pertanyaan ANTARA di sekolah tersebut di Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto

Dia menyebutkan jam belajar siswa juga disesuaikan selama masa pemulihan, yakni mulai pukul 07.30 WIB hingga 11.00 WIB, sementara siswa kelas satu dipulangkan lebih awal sekitar setengah jam.

Eva menyebutkan, kebijakan tersebut merupakan arahan dari Dinas Pendidikan Aceh Tamiang agar proses belajar tetap berjalan tanpa membebani siswa di tengah kondisi pascabencana.

Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran diserahkan kepada wali kelas masing-masing, mulai dari bercerita, menulis, hingga aktivitas ringan lainnya sesuai mata pelajaran yang diajarkan.

Terkait seragam, Eva mengungkapkan sebagian besar siswa mulai kembali mengenakan seragam merah putih, meski sekitar 20 persen siswa masih menggunakan pakaian bebas karena keterbatasan.

Proses belajar mengajar di SDN 1 Tualang Cut di Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto

Dia menyebutkan jumlah siswa SDN 1 Tualang Cut tercatat sebanyak 324 orang, namun belum seluruhnya kembali masuk sekolah karena sebagian masih mengungsi ke luar daerah akibat rumah mereka hancur total.

Eva menuturkan, kondisi sekolah saat banjir sangat parah dengan lumpur setinggi betis memenuhi area sekolah, merusak ruang kelas, perabot, serta peralatan elektronik di kantor.

Pembersihan sekolah melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, TNI, Polri, hingga Brimob, sementara proses belajar kini telah berjalan sekitar 75 persen dan terus diupayakan optimal.

Sementara itu, Kanza, siswa kelas lima, mengaku senang kembali bersekolah setelah sekitar satu bulan belajar terhenti, sempat mengungsi lima hari di tenda dan hanya belajar seadanya bersama ibunya.

Proses belajar mengajar di SDN 1 Tualang Cut di Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto

Pengalaman serupa dialami Zahira yang selama sebulan belajar di pengungsian dengan bantuan kakaknya, sebelum akhirnya kembali ke sekolah dan merasa bahagia bisa bertemu teman-temannya lagi.

Sementara itu, Salwa Azalea yang rumahnya tidak terdampak banjir mengaku prihatin terhadap kondisi teman-temannya, meski berharap pembelajaran segera kembali menggunakan meja dan kursi karena menulis di lantai terasa melelahkan.

Alif, yang juga siswa kelas lima asal Desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed, menyebut banjir membuatnya lama tidak masuk sekolah dan terpisah dari teman-teman, sehingga kini merasa senang bisa belajar dan bermain bersama kembali.

"Ya senang bisa masuk sekolah lagi karena kan bisa main-main. Senang bisa main-main, bisa belajar bersama," kata Alif.

Proses belajar mengajar di SDN 1 Tualang Cut di Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto

Baca juga: BKO Brimob Kaltim tuntaskan pembangunan jembatan darurat di Aceh Utara

Kondisi belajar di lantai juga dirasakan tidak nyaman oleh sejumlah siswa, termasuk Alif dan Zaid, yang berharap fasilitas sekolah segera pulih agar pembelajaran bisa berjalan normal.

Zaid sendiri kehilangan seragam sekolah karena hanyut terbawa banjir, namun tetap datang belajar meski memakai pakaian biasa, menunjukkan semangat siswa untuk kembali belajar di tengah keterbatasan pascabencana.

"Bajunya hanyut (saat banjir). Hilang tiba-tiba enggak ada lagi," ucap Zaid dengan nada pilu.

Baca juga: Penyintas banjir Agam manfaatkan layanan pengobatan gratis PMI

Proses belajar mengajar di SDN 1 Tualang Cut seiring pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto

Baca juga: Gotong royong di Aceh, TNI bersihkan rumah warga-sekolah dari lumpur

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |