Revitalisasi Museum Tengger jaga eksistensi warisan budaya Tengger

1 week ago 5

Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ meresmikan revitalisasi Museum Tengger yang berada di lereng Gunung Bromo, tepatnya di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (26/1).

Revitalisasi tersebut merupakan komitmen pemerintah pusat hingga daerah bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur untuk menjaga eksistensi warisan budaya para leluhur Suku Tengger di era digitalisasi dan globalisasi, bahkan museum nantinya diharapkan memiliki peran strategis sebagai penjaga memori bangsa di era digital.

Revitalisasi difokuskan pada interior gedung dan penyempurnaan narasi storyline oleh tim ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur dan Kementerian Kebudayaan.

Momentum revitalisasi tersebut juga sangat berarti bagi masyarakat Tengger yang berada di beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan dan Malang karena menjadi tonggak penting bagi Suku Tengger dalam menjaga eksistensi kebudayaan mereka di tengah modernitas.

Dukun Pandita memimpin ritual doa sebelum dilakukan peresmian revitalisasi Museum Tengger yang menjadi simbol bentuk penghormatan terhadap adat istiadat setempat.

Museum yang dibangun dan diresmikan pertama kali pada November 2017 tersebut memang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki agar menjadi pusat pengetahuan budaya di kawasan Tengger menjadi lebih menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo.

Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Fahmi AHZ mengatakan bahwa Museum Tengger merupakan pusat informasi budaya masyarakat Tengger yang memiliki nilai sejarah tinggi karena museum itu dibangun dengan tujuan sebagai ruang edukasi, dokumentasi serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.

Harapannya, Museum Tengger menjadi wujud nyata perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian warisan budaya bangsa, khususnya budaya masyarakat Tengger yang sarat nilai historis, filosofis, dan kearifan lokal yang kini masih terjaga dengan baik.

Museum yang berada di lereng Gunung Bromo itu juga diharapkan dapat berkembang sebagai pusat kajian kebudayaan, sekaligus objek wisata edukasi yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan budaya dan tradisi Suku Tengger.

Museum Tengger kembali ditegaskan sebagai "Jendela Jiwa Bromo" yang menjadi ruang di mana nilai, adat, dan sejarah masyarakat Tengger dipresentasikan sebelum wisatawan melangkah menuju kawasan eksotik Gunung Bromo, sehingga museum itu menjadi titik awal perjalanan budaya, tempat wisatawan diperkenalkan pada kearifan lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam Tengger.


Warisan budaya

Bagi Kementerian Kebudayaan, rehabilitasi dan revitalisasi museum merupakan bagian penting dari komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya, tradisi serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi.

Museum Tengger yang terletak di kaki Gunung Bromo ini menyimpan berbagai ekspresi budaya berupa benda pusaka bersejarah, dokumentasi, busana adat serta beragam artefak budaya lainnya. Koleksi tersebut mencerminkan nilai-nilai leluhur dan tradisi, termasuk upacara Yadnya Kasada, yang membentuk identitas serta pola kehidupan masyarakat Tengger.

Masyarakat Tengger telah menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber kekuatan. Nilai harmoni antara manusia dan alam, sesama manusia, serta dengan Sang Pencipta, termasuk semangat gotong royong, merupakan jati diri yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

Museum Tengger diharapkan menjadi pusat informasi, pusat edukasi dan pusat budaya, sehingga wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga diajak menyempatkan diri mengunjungi Museum Tengger yang kini lebih menarik dikunjungi.

Pengamat sekaligus peneliti budaya Tengger dari Universitas Jember Dr Ikwan Setiawan berharap dengan revitalisasi Museum Tengger, para pengunjung, baik pelajar, wisatawan, maupun warga umum akan mendapatkan informasi yang lebih komprehensif tentang warga Tengger karena selama ini banyak versi dongeng dan legenda yang tidak mengindikasikan sejarah Tengger.

Khususnya anak-anak dan kaum muda Tengger bisa menjadikan museum tersebut sebagai tempat belajar tentang sejarah panjang dan ragam budaya lokal agar mereka menjadi generasi yang siap melanjutkan warisan leluhur di tengah-tengah perubahan zaman, sehingga pemerintah diharapkan melibatkan kamu muda dalam mengelola museum agar mereka memiliki sense of belonging.

Pemerintah juga diharapkan membuat ajang-ajang edukatif, sekaligus hiburan di museum, sehingga para generasi (Gen) Z tertarik untuk berkunjung, seperti membuat workshop tentang kreativitas seni berbasis sejarah Tengger, lomba foto kreatif, dan lainnya.

Dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej itu berharap museum harus dijadikan tempat yang memberikan pengalaman berkesan bagi pengunjung, agar tidak menjenuhkan, sehingga tampilan artefak dan informasi lainnya harus dibuat dinamis.

Revitalisasi Museum Tengger berupaya menghadirkan aspek dinamis dan interaktif dalam komposisi kontennya, termasuk menghadirkan konten hasil desain dengan kecerdasan artifisial (AI) yang menggambarkan orang dan budaya Tengger karena konten dengan model naratif yang menarik, tanpa menghilangkan aspek historisnya menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung museum.


Dongkrak sektor pariwisata

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan bahwa kehadiran museum yang telah dipercantik akan mengubah wajah pariwisata di kawasan Gunung Bromo.

Pemerintah daerah berkomitmen mengintegrasikan museum ke dalam paket wisata resmi, sehingga kunjungan wisatawan tidak lagi sebatas menikmati keindahan alam matahari terbit, namun juga meresapi kedalaman budaya masyarakatnya.

Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Probolinggo mendukung penuh keberadaan Museum Tengger sebagai bagian dari penguatan wisata budaya daerah.

Dukungan itu diwujudkan lewat promosi Museum Tengger, salah satunya melalui pembuatan brosur dan pengenalan kepada pelaku wisata, termasuk dari luar daerah Probolinggo.

Kolaborasi lintas sektor dari pemerintah daerah diharapkan mampu memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo, tidak hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga memahami nilai kebersamaan, budaya, dan tradisi masyarakat Suku Tengger di museum tersebut.

Pemerintah daerah menargetkan Museum Tengger dapat menjadi bagian dari paket wisata, sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung ke Gunung Bromo, tetapi juga dapat belajar dan mengenal budaya serta asal-usul masyarakat Tengger.

Dengan dukungan lintas sektor tersebut, Museum Tengger diharapkan menjadi tujuan wisata edukasi, sekaligus pusat pelestarian budaya yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo di tengah ancaman kepunahan warisan nenek moyang.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |