Banda Aceh (ANTARA) - Relawan Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa (SSB) bersama Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan pendampingan pembelajaran bagi pelajar terdampak bencana di tenda pengungsian di sejumlah wilayah Aceh.
"Para relawan saat ini beraktivitas langsung di lokasi pengungsian dan sekolah darurat yang melaksanakan proses belajar mengajar di tenda," kata Koordinator Relawan, Victor Yasadana alias Tongky dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Rabu.
Tongky mengatakan, tim relawan berkegiatan di berbagai titik, di antaranya di Kabupaten Aceh Tengah, SD Negeri 10 Ketol, pembelajaran berlangsung di tenda darurat.
Kemudian, SMP Negeri 9 Bintang di Kecamatan Bintang, SD Negeri 11 Linge di Pantan Nangka, Kecamatan Linge, serta SMP Negeri 22 Lut Tawar di Takengon.
Baca juga: Bupati: Aceh Utara butuh Rp27,5 triliun untuk Rehab-Rekon pascabencana
"Relawan pendidikan juga bergerak di wilayah lain, seperti Langkahan Kabupaten Aceh Utara, serta Aceh Tamiang. Ini untuk memastikan kegiatan belajar anak-anak tetap berlangsung pascabencana," ujarnya.
Dalam waktu dekat, kata dia, sekitar 60 relawan baru juga telah dijadwalkan mengikuti pelatihan di SSB Pidie pada 28–30 Januari 2026. Sehingga mereka lebih siap ketika diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk rencana penempatan di Kabupaten Gayo Lues.
Seiring kondisi mulai membaik, terutama sekolah yang bangunannya tidak mengalami kerusakan berat, telah berangsur kembali melaksanakan pembelajaran secara normal.
Namun, pihak relawan berharap adanya dukungan informasi dari pemerintah daerah mengenai sekolah yang masih belajar di tenda atau di lokasi pengungsian, setidaknya hingga menjelang Ramadhan 2026.
Baca juga: TNI AD bangun 105 sumur bor untuk penuhi kebutuhan air warga Aceh
"Informasi tersebut dibutuhkan untuk melakukan asesmen awal penempatan relawan lanjutan, khususnya di wilayah Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang," kata Tongky.
Terkait pembelajaran pascabencana, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin menegaskan bahwa proses belajar mengajar harus tetap berlangsung meskipun berada dalam situasi darurat bencana.
Menurut dia, rasa optimisme yang terus ditumbuhkan kepada siswa akan berdampak besar terhadap semangat belajar mereka. “Optimisme ini penting agar anak-anak tetap memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik ke depan,” katanya.
Murthala mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah terdampak bencana.
“Dengan kolaborasi seperti ini, kami merasa sangat terbantu. Ini menjadi alasan kuat agar dunia pendidikan Aceh dapat lebih cepat keluar dari masa darurat bencana seperti yang sedang kita hadapi,” demikian Murthalamuddin.
Baca juga: BKKBN Aceh beri pendampingan psikososial remaja pasca-bencana
Baca juga: Pemkab Aceh Utara usulkan perbaikan 9.707 unit rumah rusak berat
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































